Ketika Tuhan dituntut hidup saleh

Mari perhatikan sejenak ayat-ayat ini:

Ibrani 5:5-10

(5) Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”,
(6) sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”
(7) Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.
(8) Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,
(9) dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,
(10) dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Allah, menurut peraturan Melkisedek.

Saya ulangi sejenak di ayat 7, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan …. dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Saya harus tegaskan sekali lagi, ketika Allah Bapa di surga mendengarkan doa dan permohonan Tuhan Yesus, itu bukan karena status-Nya sebagai Anak Allah, bukan pula karena Dia sendiri adalah Allah yang menjadi manusia, melainkan karena kesalehan-Nya. Meski saya tidak bisa membanyangkan akan terjadi demikian, tetapi ayat ini juga berkata bahwa seandainya – sekali lagi seandainya – Yesus Kristus tidak hidup saleh, maka doa-Nya pun tidak akan didengarkan oleh Bapa.

Who in the days of his flesh, having offered up prayers and supplications …. and having been heard for his godly fear.[1]

In the days of his flesh, Jesus offered up prayers and supplications …. and he was heard because of his reverence.[2]

Pada masa Yesus hidup di dunia ini, Ia berdoa dan memohon …. Dan karena Ia tunduk kepada Allah dengan penuh hormat, maka Ia didengarkan.[3]

While he lived on earth … Jesus cried out … as he offered up priestly prayers to God. Because he honored God, God answered him.[4]

Ada beberapa hal penting di sini yang harus kita perhatikan.

Pertama, kalau Tuhan Yesus saja dituntut kesalehan-Nya, bagaimana dengan kita? Jangan berpikir kita bisa hidup seenaknya hanya karena status orang Kristen.

Kedua, di dalamnya kita mendapati bahwa Allah tidak pernah pilih kasih. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari status dan prestasi yang kita raih di hadapan Tuhan.

Ketiga, doa yang didengar Bapa bukanlah doa yang dipanjatkan oleh pendeta, gembala, atau yang punya status hamba-hamba Tuhan lainnya. Bukan karena status semacam itu, doa yang didengarkan-Nya.

Maka, pertanyaan-Nya adalah masih mau hidup seenaknya di hadapan Tuhan?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]American Standard Version
  2. [2]English Standard Version
  3. [3]Bahasa Indonesia Sehari-hari
  4. [4]The Message

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.