Barang yang kudus, anjing, mutiara, dan babi

Apa coba hubungan antara barang yang kudus, anjing, mutiara, dan babi? Yang rajin membaca Alkitab pasti bisa menebak ayatnya. Yup … di Matius 7:6, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memisahkan ayat ini dengan perikop sebelumnya yang berbicara tentang menghakimi dan perikop sesudahnya yang berbicara tentang hal pengabulan doa. Hal ini membuat seakan-akan ayat ini berdiri sendiri, dan biasanya ditafsirkan terpisah. Dua hari yang lalu saya membaca ayat ini dalam versia the Message yang ditulis demikian, “Don’t be flip with the sacred. Banter and silliness give no honor to God. Don’t reduce holy mysteries to slogans. In trying to be relevant, you’re only being cute and inviting sacrilege.” Indah ya, farafrase dari the Message, tetapi yang membuat saya merenungkan ayat ini, karena rupanya the Message dan kebanyakan versi Alkitab lainnya memasukkan ayat ini dalam satu perikop tentang menghakimi.

Saya jelaskan dulu bagaimana ayat ini biasanya diajarkan – saya tidak boleh dan tidak bisa menyalahkannya – termasuk dulu saya mengkhotbahkannya. Barang yang kudus dan permata menggambarkan kebenaran Injil Kristus, sementara anjing dan babi adalah orang-orang yang terus-menerus menantang, menjelek-jelekkan, dan menginjak-injak Injil.

Masalah saya dengan penafsiran seperti ini adalah – yang baru saja saya temukan.

  1. Seakan-akan ada satu titik di mana kita harus berhenti mengabarkan Injil kepada orang-orang yang digambarkan seperti anjing dan babi itu. Saya tidak setuju dengan hal ini, karena menurut saya mustinya tidak ada kata menyerah untuk memberitakan kebenaran Injil.
  2. Seakan-akan ada hak bagi kita untuk kemudian “menghakimi” orang lain, dan memutuskan bahwa mereka termasuk golongan anjing dan babi. Padahal di ayat-ayat sebelumnya, Tuhan Yesus menegaskan bagaimana kita harus berhati-hati dalam hal menghakimi.
  3. Setahu saya Alkitab selalu menunjukkan korelasi antara satu ayat dengan ayat lainnya. Baik dengan ayat sebelumnya maupun ayat sesudahnya. Jika ayat 6 dipisahkan dari ayat 1-5, maka menurut saya rasanya akan aneh karena satu ayat berdiri sendiri. Apalagi ayat ini masuk dalam khotbah di Bukit, yang diucapkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

Maka, saya memberanikan diri untuk mencari tahu dan merenungkan ayat ini, dan ini sedikit tafsiran bebas saya tentang Matius 7:6.

Yang perlu diketahui adalah bagi orang Yahudi, anjing dan babi termasuk dalam kategori binatang najis. Pada masa itu anjing hidup secara liar, tidak ada yang menjadikan anjing sebagai binatang peliharaan. Sementara, kalau ada babi yang diternakkan – dianggap setengah liar – itupun karena ada alasan perdagangan dengan bangsa lain.

Yang dimaksud barang kudus (=hagios) mengacu kepada daging kurban, yaitu daging hewan yang dikurbankan di mezbah Bait Suci. Bayangkan ini, apa yang terjadi jika kita memberikan daging kepada anjing? Apakah anjing-anjing itu akan menolaknya? Jelas tidak, mereka akan sangat senang dan langsung menyantapnya.

Rupanya mutiara itu mirip dengan kacang-kacangan atau jagung yang sering menjadi makanan babi di Timur Tengah. Ketika ada mutiara dilemparkan, babi-babi ini akan segera menganggapnya sebagai makanan dan berebut ke arahnya. Ingat, sudah saya sebutkan bahwa babi itu setengah liar, begitu tahu bahwa itu bukan makanan, maka mereka akan mengejar yang melemparkan mutiara itu.

Rasul Petrus mengingatkan kita karakter dua binatang ini dalam 2 Petrus 2:22, “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” Dua binatang ini menunjukkan karakter yang tidak bisa membedakan mana yang kudus dan mana yang najis. Lalu apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Matius 7:6 ini?

Sekali lagi, ini adalah tafsiran bebas dan pendapat pribadi saya. Lihat sebentar Matius 7:3-5! Menurut saya, yang disamakan dengan anjing dan babi itu adalah apa yang disebut oleh ayat 5 sebagai “orang munafik”. Ayat 6 menjelaskan seperti apa sebenarnya orang munafik itu. Mereka adalah orang-orang yang menerima bahkan gemar terhadap pemberitaan Injil, seperti anjing yang gemar daging kurban, dan babi yang segera mengejar permata karena dikira makanan. Meskipun gemar Injil, mereka adalah orang-orang yang “kembali ke muntahnya, dan mandi kembali lagi ke kubangannya”. Berapa kalipun mendengar kebenaran Firman, hidup mereka tetap bergelimang dengan dosa dan nafsu duniawi yang penuh kejijikan. Uniknya, orang-orang munafik ini menganggap diri mereka sudah kudus, dan menghakimi kehidupan orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 3-5.

Nah, saya meninggalkan PR untuk Anda, silakan baca 2 Petrus 2:22 dan Filipi 3:2, serta ayat-ayat di atas dan di bawahnya. Perhatikan siapa dan orang macam apa yang ditujuk oleh rasul Petrus dan rasul Paulus, berkenaan dengan anjing dan babi. Kalau Anda tidak setuju dengan tulisan dan tafsiran saya di atas, mungkin Anda bisa setuju dengan rasul Petrus dan rasul Paulus.

“Don’t be flip with the sacred. Banter and silliness give no honor to God. Don’t reduce holy mysteries to slogans. In trying to be relevant, you’re only being cute and inviting sacrilege.” (Matthew 7:6 – The Message)

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

5 thoughts on “Barang yang kudus, anjing, mutiara, dan babi

  1. Julie Buntoro

    wah, gawat! Kalau saya tidak benar2 bertobat saya termasuk babi dan anjing.  Makasih ya Pak untuk tulisannya.

    Reply
  2. Daniel

    Oh wow, anjing & babi itu saya :(ampuni aku ya Tuhan Yesus.Terimakasih atas penjelasan yg membukakan mata saya ini. Tuhan memberkati…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.