Jangan berdoa seperti orang munafik! Jangan berdoa bertele-tele!

Salah satu khotbah Tuhan Yesus di bukit adalah tentang hal berdoa. Prinsip doa yang akan saya bahas di sini adalah tentang berdoa seperti orang munafik dan berdoa yang bertele-tele. Dulu waktu mengkhotbahkan ke anak-anak Sekolah Minggu, kekritisan mereka muncul dan menanyakan apa arti munafik dan apa arti bertele-tele.

Mari kita baca dulu dalam Matius 6:5-8@

(5) “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (6) Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (7) Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. (8) Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata “munafik” sebagai berikut, “berpura-pura percaya atau setia dsb kpd agama dsb, tetapi sebenarnya dl hatinya tidak; suka (selalu) mengatakan sesuatu yg tidak sesuai dng perbuatannya; bermuka dua“. Sementara Alkitab menggunakan kata “hupokrites”, yang berarti secara harafiah sebagai tindakan menyembunyikan. Kata hupokrites ini juga digunakan untuk menunjuk seorang aktor yang sedang berpura-pura (berakting) memerankan karakter lain.

Jadi, saat Tuhan Yesus memperingatkan supaya kita jangan berdoa seperti orang munafik, artinya jangan berdoa hanya sebagai akting, hanya pura-pura. Jangan berdoa sambil menyembunyikan motivasi-motivasi lain, yang disebut di ayat 5 sebagai tindakan supaya dilihat orang.

Sementara untuk kata “bertele-tele“, KBBI mengartikannya, “bercakap-cakap tidak jelas ujung pangkalnya; melantur-lantur; berlarut-larut“. Sedangkan Alkitab menggunakan kata “battologeo“, yang paling tidak memiliki tiga arti:

  1. menggagap;
  2. mengoceh, membosankan;
  3. mengulang-ulang kata-kata yang tidak bermakna.

Mengenai hal menggagap, contoh yang paling mutakhir adalah sosok seorang pelawak yang berakting seakan-akan memiliki penyakit gagap bicara. Gaya bicaranya dibikin tersendat-sendat. Berdoa yang bertele-tele itu juga sama artinya berdoa yang terus-menerus mengoceh — memperbanyak kata-kata — hal-hal yang membosankan, melantur ke sana kemari.

Kata battologeo juga menunjuk kepada doa yang mengulang-ulang kata-kata tertentu, tetapi kata-kata itu tidak bermakna, tidak memiliki arti. Gampangnya itu lho, seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra.

Ingat, di sini Tuhan Yesus mengatakan waktu kita berdoa, “masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu …“, Dia ingin mengatakan bahwa doa adalah sebuah hubungan yang intim antara kita dengan Bapa. Doa bukanlah alat untuk mencari pujian manusia, di mana kita bisa berpura-pura dan berakting sedemikian rupa.

Bapa kita yang di sorga jelas tidak membutuhkan banyaknya kata-kata, Dia mau hati kita yang diberikan untuk berhubungan karib dengan Dia.

=============

Tulisan ini bebas disebarluaskan, dengan catatan mencantumkan sumbernya http://martianuswb.com/

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Jangan berdoa seperti orang munafik! Jangan berdoa bertele-tele!

  1. Pingback: Kapur tulis hupokrites | Martianus' Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.