Persekutuan yang sehat butuh sikap hormat

Sikap hormat adalah menghargai perbedaan-perbedaan kita, saling memperhatikan perasaan sesama, dan bersabar terhadap orang-orang yang menjengkelkan kita. Alkitab mengatakan kepada kita, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Roma 12:10)

Jika kita menganggap Gereja dan persekutuan adalah sebuah keluarga, maka penerimaan kita terhadap orang lain tidak didasarkan pada seberapa pintar atau cantik atau berbakatnya atau kualitas-kualitas pribadi orang lain. Penerimaan didasarkan pada kenyataan bahwa kita saling memiliki.

Sikap hormat jelas tidak akan bisa dibangun jika di Gereja atau persekutuan masih ada orang yang merasa lebih baik, lebih kudus, lebih bertalenta, lebih berkarunia daripada yang lain. Sikap hormat tidak akan mungkin muncul jika masih ada prinsip bahwa orang ini lebih layak melayani dari orang itu, roh orang itu lebih baik daripada roh orang itu. Sederhananya, jika masih ada “penghakiman” manusia terhadap orang lain, tidak bakalan ada sikap hormat.

Dalam setiap keluarga, termasuk Gereja dan persekutuan, pasti ada setidak-tidaknya satu orang yang sedikit “lebih sulit” dibandingkan yang lain. Mungkin anggota keluarga ini sedikit tidak pintar, sedikit lebih menjengkelkan, sedikit lebih “membutuhkan perhatian ekstra”, dll. Tetapi bukankah sebenarnya setiap kita memiliki sifat-sifat yang khusus dan menjengkelkan?

Kadangkala setiap membentuk persekutuan atau kelompok kecil, disarankan untuk memilih mereka yang cocok dengan diri kita. Ooops … salah besar! Persekutuan tidak ada hubungannya dengan kecocokan. Dasar bagi persekutuan kita adalah hubungan kita dengan Allah: Kita adalah keluarga.

Referensi: The Purpose Driven Life, hlm. 167.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.