Persekutuan yang sehat butuh diperjuangkan

Berapa banyak di antara kita yang sudah mendengar pernyataan seperti ini, “Wah, saya sudah tidak nyaman di gereja ini!”, “Sudah tidak ada lagi persekutuan yang hangat!”, “Sejujurnya saya kecewa dengan kondisi gereja ini!”? Yup, saya sering mendengar kalimat ini keluar dari mulut orang Kristen. Atau barangkali hal inikah yang sedang ada di pikiran dan hati Anda tentang persekutuan atau gereja di mana Anda sedang berada?

Seorang sahabat beberapa hari yang lalu berbincang dengan saya tentang kondisi gereja **** yang menurutnya jauh berbeda dari gereja lain. Saya pun melihat hal yang sama di gereja ini. Di saat gereja lain penuh berisi kritikan, hujatan, gosip, gereja ini memiliki persekutuan yang bagitu hangat, begitu mudahnya jemaat saling memuji dan mengasihi. Apa bedanya dengan gereja yang lain? Mungkin itu pertanyaannya.

Semua jemaat gereja atau orang Kristen di dalam persekutuan menginginkan sebuah persekutuan yang ideal. Di saat harapan ini tidak tercapai, seringnya orang Kristen menjadi kecewa terhadap gereja. Orang-orang menjadi kecewa terhadap gereja karena banyak alasan yang bisa dipahami. Daftarnya bisa agak panjang memang: konflik, luka hati, kemunafikan, kurang diperhatikan, pikiran sempit, legalisme, dan hal-hal lainnya.

Rick Warren dalam The Purpose Driven Life menyatakan supaya orang Kristen bersikap realistis dengan harapan-harapannya tentang gereja, dikatakan demikian “Begitu Anda menemukan apa yang Allah maksudkan dengan persekutuan yang sejati, mudah untuk menjadi patah semangat karena adanya jurang antara yang ideal dan yang nyata di dalam gereja Anda. Namun, kita harus bersungguh-sungguh mengasihi gereja sekalipun ada ketidaksempurnaannya. Merindukan yang ideal sementara mengkritik yang nyata adalah bukti dari ketidakdewasaan. Sebaliknya, tinggal dalam kenyataan tanpa memperjuangkan yang ideal merupakan sikap puas dengan diri sendiri. Kedewasaan ialah menyesuaikan diri dengan ketegangan itu.

Tidak dimaksudkan bahwa persekutuan yang ideal itu tidak mungkin terwujud. Persekutuan yang sehat bisa diwujudkan tetapi memang harus diperjuangkan dengan penuh komitmen. Tetapi masalahnya adalah kebanyakan orang Kristen di dalam gereja sekarang ada dalam satu di antara dua kondisi ini:

  1. Tidak mau memperjuangkan persekutuan yang sehat
  2. Sudah berhenti memperjuangkan persekutuan yang sehat, karena tidak melihat ada perubahan yang signifikan

Ada orang yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang bisa ramah, menyapa jemaat yang lain, bercengkerama dengan mereka. Parahnya lagi menyatakan bahwa dirinya itu tidak bisa berubah, jemaat yang lain musti menerima dia apa adanya. Ini contoh orang yang tidak mau memperjuangkan persekutuan yang sehat.

Sekali waktu seorang Kristen meminta saran saya untuk menyelesaikan konflik kecil yang dihadapinya di gerejanya. Saya memberikan jawaban mengutip Rick Warren dari The Purpose Driven Life halaman 177, “Utamakan rekonsiliasi, bukan resolusi!”. Ketika hal ini disampaikan di gerejanya, tanggapan yang diterimanya adalah beberapa orang yang lain menyalahkan dirinya dan membela bahwa gereja itu sudah yang paling baik. Ini seperti mereka yang disebut oleh Rick Warren sebagai “sikap puas dengan diri sendiri“.

Seringkali kalau bertemu dengan jemaat dari gereja lain, mereka mengeluhkan keadaan persekutuan di gerejanya. Saya sering menyarankan untuk memperjuangkan kondisi yang lebih baik di gereja mereka, atau supaya mereka sharing dengan para pengurus atau pemimpin gereja di mana mereka berada. Tetapi seringkali juga mereka berkata bahwa mereka sudah cukup lega membuka hati mereka kepada saya, dan tidak ada gunanya kalau harus berbicara dengan pemimpin atau pengurus gereja.

Saya melihat lebih banyak orang Kristen bertipe seperti ini, mereka merindukan gereja dan persekutuan mereka menjadi sehat dan ideal, memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, tetapi hanya dia dan segelintir orang yang melakukannya, dan tidak terlihat perubahan yang signifikan. Akibatnya, orang-orang seperti ini menyerah dan berhenti memperjuangkan persekutuan yang sehat.

Orang-orang Kristen seperti ini terus-menerus memaksa diri mereka berkata, “Tidak apa-apa, saya mengalah saja” atau “Ya sudah, saya akan berkorban untuk persekutuan ini”. Memang itu hal yang baik — untuk sementara waktu — tetapi, seringnya saya melihat orang-orang ini punya kecenderungan akhirnya “meledakkan” apa yang ada di dalam hatinya.

Berapa banyak persekutuan dan gereja yang terpecah dengan dalih menyelesaikan konflik, padahal tidak ada pendamaian di dalamnya.

Saya bisa memahami rasa frustasi di antara orang Kristen yang melihat persekutuan di gerejanya tidak sehat. Ini saran saya, jangan berhenti memperjuangkannya, ajak sahabat-sahabat yang lain untuk terus memperjuangkan persekutuan yang ideal itu, tetapi ingat, lakukan dengan kasih ya!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.