Godaan Di Padang Gurun: Sebuah Sudut Pandang Ekologis

Baca: Matius 4:1-11

1 Sesudah itu Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang belantara untuk dicobai iblis. 2 Di sana Dia berpuasa dengan tidak makan apa pun sama sekali selama empat puluh hari empat puluh malam, hingga akhirnya Dia sangat lapar. 3 Lalu iblis, si penggoda itu, mendekati-Nya dan berkata, “Bukankah kamu Anak Allah? Ubahlah batu-batu ini menjadi roti!”

4 Tetapi Yesus menjawab, “Dalam Kitab Suci tertulis, ‘Kehidupan manusia tidak bergantung pada roti saja, melainkan pada setiap perkataan yang diucapkan Allah.’”

5 Kemudian dalam waktu singkat iblis membawa-Nya ke kota suci Yerusalem dan menempatkan-Nya di puncak rumah Allah. 6 Kata iblis kepada-Nya, “Kalau kamu Anak Allah, lompatlah ke bawah! Karena dalam Kitab Suci tertulis, ‘Allah akan menyuruh para malaikat untuk menjagamu, dan tangan mereka akan memegangmu, sehingga kakimu tidak sampai kena batu.’”

7 Jawab Yesus, “Ada juga tertulis, ‘Janganlah kamu mencobai TUHAN Allahmu.’”

8 Kemudian dengan cara ajaib iblis membawa Yesus ke gunung yang sangat tinggi, lalu menunjukkan kepada-Nya semua kerajaan di dunia dan segala kemewahan dari setiap kerajaan itu. 9 Lalu dia berkata kepada Yesus, “Aku akan memberikan semua itu kepadamu kalau kamu sujud menyembah aku.”

10 Kata Yesus kepadanya, “Pergi dari hadapan-Ku, Satanas! Karena dalam Kitab Suci tertulis, ‘Sembahlah TUHAN Allahmu, dan Dia sajalah yang harus kamu layani.’”

11 Lalu iblis meninggalkan Yesus, dan malaikat-malaikat pun datang melayani Dia.[1]

Godaan iblis di padang gurum kepada Yesus, simetris dengan konteks pertobatan ekologis yang kerap didengungkan oleh gereja akhir-akhir ini. Tulisan ini bukan untuk mencari dasar alkitabiah dari pertobatan ekologis. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa pertobatan ekologis lebih dekat dengan diri kita daripada sekedar khotbah ataupun program gereja. Sebagaimana saya tuliskan di sini, pertobatan ekologis tidak boleh menjadi program gereja. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita begitu dekat dengan godaan menghancurkan alam.

Godaan 1: batu menjadi roti

Rasa lapar Yesus adalah sesuatu yang nyata dan sahih. Makan pada saat itu bukan sekedar rasa, itu sudah menjadi kebutuhan tubuh Yesus. Sesungguhnya Yesus mempunyai kuasa untuk memenuhi kebutuhan-Nya itu. Tetapi, Yesus menolak cara instan itu.

Pertanyaan bagi kita, kalau sesuatu bisa kita lakukan, apakah memang seharusnya itu kita lakukan?

Kerusakan alam yang dilakukan oleh manusia didorong oleh motivasi bahwa kebutuhan kita harus segera dipenuhi. Kita menggunakan apa yang diciptakan Tuhan menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan – kalau tidak boleh dikatakan nafsu.

Berapa banyak hutan – ratusan ribu hektare – yang dihancurkan untuk alasan “ketahanan pangan”? Berapa banyak tambang dibuka untuk alasan memenuhi “kebutuhan ekonomi nasional”?

Godaan 2: melompat dari puncak rumah Allah

Lompat saja, toh Tuhan menjaga hidupmu! Sadar atau tidak sadar, kita sering tergoda untuk menyuruh Tuhan membuktikan diri-Nya. Kita hidup dalam asumsi bahwa kita bisa melakukan apapun kepada alam ini, karena Tuhan akan menanggung akibatnya. Kita hidup dalam ilusi bahwa konsekuensi bisa ditunda.

Kalaupun hutan ditebangi, tanah adat digali tanpa batas, kita yakin bahwa bumi akan memulihkan dirinya sendiri. Dalam hidup sehari-hari, kita acuh tak acuh dengan sampah. Buat apa memilah sampah, toh nanti akan ada teknologi yang menyelamatkan kita dari sampah. Apapun yang kita lakukan terhadap bumi ini – ini bahasa iman Kristen – kita percaya Tuhan tidak akan membiarkan kehancuran.

Apakah ini yang terjadi? Bukannya bumi yang memulihkan diri, kita melihat bagaimana perubahan iklim menggulung manusia dengan banjir bandang. Kita melihat fenemona iklim global yang semakin ekstrim. Kita terkaget-kaget ketika kota-kota mengalami kepenuhan tempat pembuangan sampah.

Sesungguhnya, kita sedang mencobai Tuhan.

Godaan 3: semua kerajaan di dunia

Sebuah jalan pintas menuju kekuasaan. Bukan sekedar kekayaan, melainkan sebuah godaan untuk berkuasa tanpa relasi yang benar.

Ketika Tuhan menciptakan alam semesta, dengan manusia di dalamnya, ada sebuah harmoni yang diinginkan-Nya terjadi. Bukannya membangun hubungan yang benar dengan alam, manusia menuntut hasil alam tanpa bertanggung jawab, kita memilih dominasi tanpa penatalayanan yang benar.

Kita sedang membangun kerajaan kita sendiri tanpa salib, tanpa ketundukan.

Maka kemudian pertobatan ekologis bukan tentang apakah kita merusak alam, melainkan bagaimana kita hidup di bumi ini dan apakah itu jalan yang Yesus tolak di padang gurun?

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 4:1-11 (Terjemahan Sederhana Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.