The danger of misquoting and misrepresenting God

Ini sebenarnya tulisan lama, saya update karena pernyataan “Saya mendengar suara Tuhan” menjadi semakin tren di kalangan gereja, baik jemaat maupun hamba-hamba Tuhan. Bahkan klaim-klaim semacam ini semakin menuju ke arah yang berbahaya. Ada yang mengaku sebagai hamba Tuhan ter-…., ada yang mengaku memiliki roh …., bahkan saya tahu sendiri ada hamba Tuhan yang menyamakan dirinya dengan nabi-nabi zaman Perjanjian Lama.

Aku telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan: Aku telah bermimpi, aku telah bermimpi! Sampai bilamana hal itu ada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hatinya sendiri, yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpinya yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal? Nabi yang beroleh mimpi, biarlah menceritakan mimpinya itu, dan nabi yang beroleh firman-Ku, biarlah menceritakan firman-Ku itu dengan benar! Apakah sangkut-paut jerami dengan gandum? demikianlah firman TUHAN. Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN dan seperti palu yang menghancurkan bukit batu? Sebab itu, sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang mencuri firman-Ku masing-masing dari temannya. Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan para nabi, demikianlah firman TUHAN, yang memakai lidahnya sewenang-wenang untuk mengutarakan firman ilahi. Sesungguhnya, Aku akan menjadi lawan mereka yang menubuatkan mimpi-mimpi dusta, demikianlah firman TUHAN, dan yang menceritakannya serta menyesatkan umat-Ku dengan dustanya dan dengan bualnya. Aku ini tidak pernah mengutus mereka dan tidak pernah memerintahkan mereka. Mereka sama sekali tiada berguna untuk bangsa ini, demikianlah firman TUHAN. [1]

Ayat-ayat di atas menunjukkan bagaimana perasaan Tuhan saat seorang pengkhotbah berani mengatakan, “saya mendengar suara Tuhan” atau “Tuhan menuntun saya untuk mengatakan ini”. Kalau memang mendengar suara-Nya, silakan saja, tapi kalau itu hanyalah klaim palsu, perhatikan kembali ayat-ayat di atas. Berulangkali TUHAN menyatakan bahwa Dia sendiri yang akan menjadi lawan para pendusta ini.

Anda hanyalah seorang pendusta, saat Anda mengkhotbahkan sesuatu tetapi Tuhan tidak pernah mengutus Anda dan tidak pernah memerintahkan Anda untuk mengatakan itu.Salah satu orang yang sangat mengerti implikasi dari menambah atau mengurangi Firman Tuhan adalah seorang yang sangat berhikmat dan sangat bijaksana bernama Agur [2]. Sesungguhnya, Agur tidak membuat sebuah kesan pertama yang begitu luar biasa. Kalimat pertama yang kita dengar darinya adalah, “Sebab aku ini lebih bodoh dari pada orang lain, pengertian manusia tidak ada padaku” [3]. Tetapi kerendahan hatinya bukanlah tanpa alasan saat kita melihat ayat-ayat berikutnya.

Di dalam kerendahan hati, Agur melihat betapa bahayanya saat seseorang salah mengutip dan salah mempertunjukkan Sabda Allah, dia mengatakan, “Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta”[4].

Dapatkah kita menambahi Firman Tuhan tanpa menyadarinya? Sekali lagi, lihat pernyataan yang sering keluar dari mulut para pengkhotbah, “saya mendengar suara Tuhan”, atau “Tuhan menuntun saya untuk mengatakan ini”, atau “Tuhan sedang berbicara kepada saya”! Ya, tanpa menyadarinya, kita bisa menambahi Firman Tuhan. Bahkan Musa juga memperingatkan hal ini di Ulangan 4:2; 13:1-3. Sedangkan Yohanes menutup Alkitab juga dengan pernyataan yang sama di Wahyu 22:18-19.

Hati Tuhan sungguh terluka saat Firman-Nya ditambahi atau dikurangi. Dia terluka saat firman-Nya yang murni ini dipergunakan dengan salah, hanya untuk menekankan isi hati seorang pengkhotbah. Para pengkhotbah, Anda hanyalah seorang pendusta, saat Anda mengkhotbahkan sesuatu tetapi Tuhan tidak pernah mengutus Anda dan tidak pernah memerintahkan Anda untuk mengatakan itu.

Saat Agur mengatakan “semua firman Allah adalah murni”, dia menunjuk kepada api yang memurnikan logam. Segala sesuatu yang keluar dari hati Allah adalah seperti api, yang menguji semua hati, dan memakan habis semua yang cacat dan kotor.

Updated: 3 Agustus 2013

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yeremia 23:25-32
  2. [2]Amsal 30
  3. [3]Amsal 30:2
  4. [4]Amsal 30:5-6

1 thought on “The danger of misquoting and misrepresenting God

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.