Saat Tuhan sama sekali tidak menjawab

Anda berdoa, Anda berteriak, Anda menangis, tetapi jawaban doa itu tidak kunjung datang. Pernahkah Anda mengalami hal ini? Dalam bukunya yang berjudul “Finding Friendship with God”, Floyd McClung menuliskan kalimat-kalimat ini:

You wake up one morning and all your spiritual feelings are gone. You pray, but nothing happens. You rebuke the devil, but it doesn’t change anything. You go through spiritual exercises …. you have your friend pray for you …. you confess every sin you can imagine, then go around asking forgiveness of everyone you know. You fast …. still nothing. You begin to wonder how long this spiritual gloom might last. Days? Weeks? Months? Will it ever end? …. it feels as if your prayers simply bounce off the ceiling. In utter desperation, you cry out, “What’s the matter with me?”

Tahukah Anda, bahwa bukan hanya Anda yang mengalaminya. Alkitab pernah mencatat sebuah kisah yang mirip.

Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: “Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.” Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: “Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak.” Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku.” Tetapi Yesus menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh.[1]

Saya akan mengubah sedikit cerita ini, dan memasukkan Anda ke dalamnya. Anda berdoa dan Anda berseru dengan keras. Anda jelas melihat sosok Tuhan Yesus di hadapan Anda, tetapi sama sekali Dia tidak menjawab Anda. Anda semakin keras berseru, dan kini Dia memalingkan wajah-Nya. Sayangnya bukan kepada Anda, tetapi kepada sahabat di samping Anda yang juga sedang berseru kepada-Nya. Anda semakin tidak sabar, dan berusaha lebih dekat kepada-Nya. Kali ini Tuhan Yesus melihat Anda dan berkata, “Aku datang bukan untuk engkau, Aku datang untuk menjawab doa orang yang duduk di sebelahmu ini”. Saya tidak tahu apakah kata “kecewa” cukup untuk menggambarkan perasaan dan ketertolakan yang Anda alami.

Tetapi seorang ibu dari Kanaan ini memberikan respon yang rupanya dinantikan oleh Tuhan Yesus. Di dalam “penolakan” Tuhan, di dalam keberdiaman Tuhan Yesus, perempuan ini menumbuhkan imannya menjadi “besar” (Yunani: megas). Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, perempuan ini tidak bertanya mengapa Tuhan Yesus tidak menjawabnya, juga tidak bertanya mengapa dia disamakan dengan anjing. Perempuan ini tahu apa yang Tuhan Yesus kehendaki dari dirinya, dia tahu apa yang ingin dilihat Tuhan Yesus dari dirinya, imannya.

Iman yang besar tidak tumbuh dari klaim kesombongan, tetapi lewat kerendahan hati.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 15:22-28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.