Hupomeno: memaknai ruang tunggu Tuhan

Beberapa hari yang lalu, saya berkhotbah tentang hal berdoa, khususnya berkenaan dengan penantian jawaban doa. Salah satu prinsip utama yang saya sampaikan adalah ketekunan.

Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.[1]

Yakobus memberikan beberapa contoh ketekunan. Seperti petani yang menantikan panen, seperti teladan para nabi, seperti ketekunan Ayub.

Ketekunan disejajarkan dengan kesabaran, keteguhan, dan ketahanan. Orang yang bertekun seringkali digambarkan Alkitab sebagai mereka yang tetap bertahan hingga kesudahannya.

Nah, ketika mempersiapkan khotbah ini, saya mendapat pemaknaan yang baru tentang ketekunan. Ketekunan dari bahasa Yunani, hupomeno, secara harafiah berarti berlambat-lambat. Bagaimana maksudnya?

Saya menemukan jawabannya terletak pada perlintasan kereta api. Kita ini sekarang hidup dalam dunia yang bergerak dengan cepat. Segala sesuatu dituntut hampir serba instant. Seringkali kita terbawa dalam arus kehidupan semacam ini.

Saya mengamati — terutama diri saya sendiri — kalau dari kejauhan melihat dan mendengar pintu perlintasan akan ditutup segera saja mempercepat laju kendaraan 🙂 Tujuannya tentu saja supaya tidak terhalang kereta api yang lewat.

Sayangnya hal yang sama kita lakukan dalam kehidupan doa kita. Bukannya memperlambat laju, kita lebih memilih untuk mempercepat jawaban doa dengan cara kita sendiri. Akibatnya, saat Sang Jawaban datang, kita sudah melewatkannya. Yang seperti ini bukanlah hupomeno. Kita seringkali menjadi seperti Abraham yang berpikir bisa mempercepat janji Tuhan dengan menikahi Hagar.

Dalam bahasa saya, hupomeno adalah “melambatkan” ketergesa-gesaan kita, harmonisasi dan sinkronisasi waktu kita dengan waktu Bapa.

Memang benar bahwa berada di “ruang tunggu” itu tidaklah nyaman, tetapi kita perlu belajar dari Daud, “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN”[2].

Nikmati menantikan dan menunggu Tuhan, maka kita akan masuk dalam golongan yang dikatakan Alkitab, “sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun”.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yakobus 5:7-11
  2. [2]Mazmur 40:2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.