Sebuah kisah dari Pulau Buru pasca ’65

reading-bible-blueSaya sedang membaca e-book Tahun yang Tak Pernah Berakhir. Buku ini berisi esai-esai sejarah lisan dari para korban 65. Ada kisah yang menarik menurut saya dalam sisi kekristenan. Pengalaman dari Mulyadi (nama samaran) seorang pemuda berusia 18 tahun pada waktu itu (masih kelas 2 SMA) yang tidak tahu apa-apa dan kemudian menjadi tahanan politik karena dianggap terlibat gerakan 30 September, dan mengalami hampir 14 tahun dalam penjara tanpa ada pengadilan.

Ketika Mulyadi ada di tahanan Salemba, ada kegiatan pembimbingan rohani dari para rohaniwan – waktu itu di tidak beragama Kristen, Mulyadi mengatakan demikian,

Dari kelompok Kristen tidak pernah mengkritik. Tidak pernah misalnya ngatain kita ini kafir dan sebagainya, tidak pernah. Paling-paling memberikan semacam pengertian bahwa tidak ada dosa yang tidak terampuni. Tuhan selalu datang kepada kita dan mengetuk hati kita untuk menjadi orang-orang baru dengan darah dan tubuh Yesus semua akan diselamatkan. Seperti itu saja. Tidak pernah bicara misalnya ada, ‘Lu PKI’, ‘Lu semua sesat, setan, patut masuk neraka,’ gitu misalnya. Jadi tumbuhlah rasa simpati. Karena di dalam kesulitan ini, orang itu batinnya, itu jiwanya itu berkembang, mencari jalan untuk kedamaian gitu kan.[1]

Tahun 1969, Mulyadi dipindahkan ke Pulau Buru. Dia menceritakan pengalaman yang lain.

Setelah saya pindah di Pulau Buru dengan teman-teman, itu barangkali dua pertiga dari semua – tanpa ‘Kristenisasi’ ya, artinya kesadaran kita sendiri – kita itu mulai mencantumkan agamanya itu mulai berubah. Kebanyakan itu Katolik atau Protestan. Ya udah, yang Katolik harus ke gereja, yang Protestan harus ke gereja gitu kan. Jadi kita begitu, pindah agama akhirnya.[2]

Bagaimana kisah akhir Mulyadi, silakan cari dan baca buku itu. Yang saya mau tanyakan kepada kita adalah, apakah kita masih bisa menemukan kisah seperti ini di kekristenan modern sekarang ini? Ada orang yang memutuskan mengikut Tuhan Yesus karena melihat kehidupan kita. Bukan sebuah tindakan “Kristenisasi”, bukan sebuah penginjilan massal, bukan sebuah eksibisi mujizat dan kesembuhan, tetapi karena hidup kita, orang berkata, “Aku melihat hidupmu, dan aku hendak mengikut Tuhan Yesus seperti engkau mengikuti Dia”.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Tahun yang Tak Pernah Berakhir, hlm. 127
  2. [2]Ibid, hlm. 127-128

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.