Christmas: celebration of obedience

Pandangan saya tentang Natal mungkin berbeda dengan kebanyakan orang Kristen lainnya, apalagi tentang perayaan Natal. Selama ini saya tidak merasa bahwa esensi Natal ada di dalam perayaannya. Ya, itu yang membuat saya tidak begitu tertarik dengan perayaan Natal.

Tahun ini, judul di atas menjadi rhema Natal tersendiri bagi saya, “Christmas is celebration of obedience”. Yup, Natal itu adalah sebuah perayaan atas ketaatan. Kalau kebanyakan berpikir bahwa Natal adalah tentang salju, tentang pohon terang, tentang drama dengan domba dan malaikat, bagi saya Natal adalah sebuah kisah tentang ketaatan.

Natal adalah ketaatan seorang Anak kepada kehendak Bapa, di mana Sang Anak “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:6-7). Orang Kristen banyak yang mempercayai mujizat Natal, tetapi sesungguhnya ketaatan Yesuslah yang membuat Natal menjadi mujizat.

Natal adalah ketaatan sepasang manusia dalam kesederhanaan mereka. Maria yang mengatakan, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38) dan seorang laki-laki yang bernama Yusuf yang “berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya” (Matius 1:24). Ini bukan ketaatan yang mudah, Alkitab mencatat dengan jelas pertanyaan dan keragu-raguan Yusuf dan Maria, meskipun demikian mereka memilih untuk taat,

Yusuf dan Maria sangat tahu resiko yang ada di hadapan mereka sebagai pasangan belum menikah di dalam lingkungan Yahudi. Pilihan mereka untuk taat bisa membawa mereka kepada kematian karena lontaran batu. Saat TUHAN, melalui malaikat-Nya, menyampaikan berita kepada Yusuf dan Maria, tidak ada janji perlindungan. Yusuf dan Maria juga tidak mengatakan, “Okey Tuhan, kami terima tanggung jawab menjadi orang tua Anak-Mu, tapi Kau kan tahu tradisi agama Yahudi, jadi beri jaminan ya!”. TIDAK! Ketaatan mereka adalah ketaatan tanpa syarat.

Di malam ini, yang dikatakan sebagai malam Natal, saya mengajak Anda merenungkan hal ini. Natal bisa terjadi karena ada pribadi-pribadi yang memilih untuk taat saat mereka  punya pilihan untuk tidak taat. Apakah Anda merayakan Natal? Saya harap dan berdoa, Natal tahun ini membuat kita menjadi lebih taat kepada TUHAN, memiliki ketaatan yang tanpa syarat.

“Jika dengan taat kepada kebenaran-Nya, saya tidak memperoleh berkat apapun, saya tetap memilih untuk taat”

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.