Menyandingkan BlankOn dengan Ubuntu

Meskipun sudah banyak komputer yang saya pasang dengan BlankOn, baru tadi berkesempatan memasang BlankOn 7.0 Pattimura di laptop saya berdampingan dengan Ubuntu 12.04 yang sudah dipasang sebelumnya. Kali ini saya menyiapkan ruangan hard disk yang cukup kecil untuk BlankOn, hanya 10 GB. Itu pun dibagi 6 GB untuk Root; 3,5 GB untuk Home, dan 500 MB untuk Swap.

Setiap kali ada yang bertanya apa distro Linux yang cocok untuk pemula, saya selalu menyarankan menggunakan BlankOn. Saya sih pengguna aktif Ubuntu 🙂 Saya rasa tidak pas kalau memperbandingkan distro Linux mana yang lebih baik, manakala setiap distro Linux dibuat dengan tujuan pengembangan masing-masing. Tetapi selalu ada nilai plus dari masing-masing distro Linux tersebut.

Waktu menyandingkan BlankOn dengan Ubuntu, jelas kelihatan beberapa nilai plus BlankOn dibandingkan Ubuntu. Konsep BlankOn sebagai distro lokal asli buatan Indonesia jelas mempermudah para pemula yang coba-coba menggunakan Linux. Bahasa Indonesia digunakan mulai dari proses instalasi hingga hampir di semua aplikasi, termasuk juga ketersediaan aksara-aksara Nusantara.

Artwork yang khas Indonesia sangat menarik sejak rilis BlankOn 1.0. Belum lagi di versi 7.0 ada peningkatan pada contextual desktop yang memungkinkan desktop berubah-ubah sesuai waktu dan cuaca, juga pada hari-hari besar Indonesia.

Kalau Ubuntu menggunakan Unity, BlankOn mengadopsi Gnome 3. O’ya pada awalnya BlankOn merupakan turunan dari Ubuntu, tetapi sekarang tidak lagi. Widget Search di BlankOn bisa disamakan dengan fungsi Lens/Dash di Unity Ubuntu.

Kalau kita klik Bantuan di Ubuntu, maka akan kita dapat manual BlankOn 7 dalam format PDF yang sangat lengkap membahas dari perintah dasar Linux hingga penambahan aplikasi.

Nilai plus lainnya adalah waktu kita memasang BlankOn 7, maka otomatis aplikasi Inkscape dan GIMP yang merupakan aplikasi pengolah gambar macam Corel Draw dan Photoshop sudah terpasang. Plus langsung tersedia aplikasi video editor Pitivi. Kalau Anda menggunakan Ubuntu, Anda harus memasang aplikasi-aplikasi ini secara terpisah. Belum lagi codex MP3 dan plugin audio video yang sudah terpasang tanpa perlu menginstal tambahan.

Nah, tunggu apa lagi, ayo pakai Linux BlankOn. Kalau masih belum berani install, ya coba dulu dengan Live-USB. Saya sudah menulisnya di sini.

 

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.