Garam yang diinjak-injak

      1 Comment on Garam yang diinjak-injak

Yang pernah belajar kimia pasti cukup tahu bahwa garam menjadi tawar itu adalah hal yang hampir mustahil. Sifat asin pada garam dapur muncul karena ikatan antara Natrium dan Klorida. Hilangnya rasa asin – menjadi tawar – dari garam berarti terputusnya ikatan NaCl. Padahal, ikatan antara Na dan Cl adalah ikatan yang sangat stabil. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan pernyataan Tuhan Yesus di bawah ini.

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.[1]

Ada banyak tafsiran memang tentang ayat ini, tetapi memandangnya dari sudut ilmiah sepertinya adalah tidak tepat. Bagi saya, Tuhan Yesus sedang menggunakan bahasa perumpamaan di sini. Meski sebenarnya Alkitab memberikan penjelasan yang sangat mendalam tentang hal ini. Nah, saya akan menunjukkan apa yang saya temukan, dan mungkin akan berbeda dengan yang pernah Anda dengan tentang garam dari khotbah-khotbah yang lain.

moraino

moraino

Pertama-tama saya ingin menarik kita semua pada pernyataan “kamu adalah garam dunia”. Tidak pernah disebutkan bahwa kita harus menjadi garam dunia. Sejak menjadi pengikut Kristus, kita adalah garam dunia. Bisa menangkap apa yang dimaksudkan Tuhan Yesus? Sebagai orang Kristen kita ADALAH garam dunia. Maka, berhentilah berusaha menjadi garam dunia. Tugas kita bukanlah menjadi garam, tugas kita adalah supaya tidak menjadi tawar.

Kedua, apa yang bisa menyebabkan kita menjadi tawar? Dalam bahasa Yunani, kata tawar diambil dari kata moraino yang juga berarti bertindak bodoh, menjadi bodoh. Saya menemukan bahwa kata moraino ini juga digunakan oleh Paulus dalam Roma 1:22. Untuk lengkapnya kita baca dari ayat 21-32.

Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh (Yunani: moraino). Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan. Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.[2]

Dari ayat-ayat di atas kita bisa melihat hal-hal apa saja yang bisa membuat kita sebagai garam menjadi tawar.

  • mengenal Allah, tetapi tidak memuliakan Dia sebagai Allah,
  • menggantikan kemuliaan Allah dengan hal-hal yang fana,
  • mencemarkan tubuh dengan seks yang tidak pantas,
  • kelaliman,
  • kejahatan,
  • keserakahan,
  • kebusukan,
  • dengki,
  • perselisihan,
  • tipu muslihat,
  • kefasikan,
  • pengumpat,
  • pemfitnah,
  • pembenci Allah,
  • kurang ajar,
  • congkak,
  • sombong,
  • pandai dalam kejahatan,
  • tidak taat kepada orang tua,
  • tidak berakal,
  • tidak setia,
  • tidak penyayang,
  • tidak mengenal belas kasihan.

Panjang juga ya daftarnya, dan saya rasa itu hanya sebagian kecil dari apa yang Tuhan benci terjadi dalam hidup kita. Mungkin kita tidak melakukan hal-hal di atas, tetapi perhatikan penutupnya, “… setuju dengan mereka yang melakukannya”. Kalau kita menyetujui atau menolerir mereka yang melakukan hal-hal di atas, sama saja kita ikut serta di dalamnya.

Jangan jadikan daftar di atas sebagai daftar yang baku. Yang di atas hanyalah contoh kebodohan yang bisa membuat kita menjadi tawar. Ingat, adalah tugas kita untuk tidak menjadi garam yang tawar. Jangan sampai “dibuang dan diinjak orang”!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 5:13
  2. [2]Roma 1:21-32

1 thought on “Garam yang diinjak-injak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.