Suami takut isteri itu wajib

Saya tidak tahu apakah kaum bapak akan setuju dengan judul khotbah saya yang ini. Meski saya yakin kebanyakan kaum isteri akan menganggukkan kepala dengan khotbah saya yang ini. Memang benar waktu saya mengkhotbahkan ini saya belum menjadi seorang suami, tetapi selalu saya sadar bahwa setiap kali saya berkhotbah yang pertama saya khotbahi adalah diri saya sendiri. Jadi, paling tidak sebagai seorang calon suami, ini sesuatu yang layak saya khotbahkan bagi para suami dan juga para calon suami.

Para pria jangan buru-buru memprotes saya ya. Ketika saya mengatakan bahwa kita harus takut kepada isteri kita, tentu saja takut yang saya maksudkan dalam lingkup kebenaran Alkitab. Takut yang saya maksudkan di sini adalah phobeo, takut karena menghormati. Kata ini diterjemahkan oleh Alkitab bahasa Jawa sebagai wedi-asih. Setara dengan frase ajrih asih yang pernah saya khotbahkan di sini.

Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.[1]

Kalau dalam Alkitab bahasa Jawa dituliskan demikian:

Samono uga kowe, he para wong lanang, anggonmu jejodhoan nganggoa duga-duga tumrap wong wadon, awit iuku golongan kang luwih ringkih! Padha ajenana amarga iku padha kanca ahli-warise sih rahmating kauripan, supaya pandongamu aja nganti kaalangan.

Mengapa saya mengatakan takut isteri itu wajib? Pertama, karena di dalam menghormati isteri terletak kebijaksanaan seorang pria. Bijaksananya seorang suami terwujud melalui penghormatan dalam memperlakukan isterinya. Tidak ada seorang pria yang bijaksana yang tidak memperlakukan isterinya dengan penuh hormat.

Demikianlah juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri.[2]

Saya bertanya kepada Anda para pria, apakah Anda mau memperlakukan tubuh Anda dengan sembarangan? Jika demikian, perlakukan isteri kita dengan hormat.

Kedua, disebutkan bahwa para isteri ini sebagai kaum yang lebih lemah. Harap dipahami bahwa lemah di sini bukan tentang kemampuan atau kekuatan. Di sini, Alkitab menyamakan isteri dengan gambaran sebuah bejana. Lemah di sini menunjukkan kerentanan. Jika kita salah memperlakukan, bisa pecah berantakan. Ingat di dalam bejana itu Tuhan menaruh harta ilahi yang tiada ternilai.

Ketiga, ada kesetaraan antara isteri dengan suami. Isteri kita adalah teman pewaris dari kasih karunia. Artinya, isteri dan suami sama-sama di dalam anugerah keselamatan kehidupan kekal yang dikerjakan Kristus, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah derajatnya. Alkitab mendorong kesetaraan antara suami dengan isteri.

Keempat, yang terakhir ini tidak kalah penting. Ada peringatan keras, jika kita tidak memperlakukan isteri dengan penuh hormat, doa kita akan terhalang. Ini bukan tentang doa yang tidak dijawab, melainkan terganggunya percakapan kita dengan Tuhan. Dengarkan saya, pria sejati itu adalah suami yang berdoa untuk isteri dan berdoa bersama isteri. Jika percakapan kita – suami dan isteri – dengan Tuhan sampai terganggu, itu bisa fatal akibatnya. Kalau doa sering disebut nafas orang percaya, dan doa kita terhalang, bukankah sama seperti saat hidup kita sedang tersumbat? Sangat susah dan tidak nyaman ‘kan?

Dalam hal apa saja kita harus bijaksana memperlakukan isteri dengan hormat? Ayat di atas menyebutkan dalam hidup kita sebagai suami dan isteri. Maka, ketika kita berkomitmen membangun hidup bersama sebagai suami dan isteri, tidak ada satu bagian pun di mana kita tidak memperlakukan isteri dengan hormat. Saya akan sedikit meneruskan karena ini sangat penting. Perlakuan hormat kepada isteri itu termasuk di dalam berhubungan seksual. Kata “hidup” yang dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris dituliskan sebagai kata dwell, berasal dari kata sunoikeo, yang salah satu artinya adalah hubungan seksual suami dan isteri.

Peringatan khusus kepada saya dan kepada para calon suami. Memperlakukan calon isteri kita dengan hormat artinya menjaga kesucian tubuh mereka sampai tiba waktunya. Memperlakukan calon isteri kita dengan hormat artinya menunggu sampai waktu yang benar untuk berhubungan seks. Ketika kami berdua bertunangan, salah satu doa yang saya ucapkan di telinganya kira-kira berbunyi begini “Hari ini kami memasangkan cincin di tangan kiri kami. Sampai kami memindahkannya ke tangan kanan kami, Tuhan tolong kami untuk terus menjaga kekudusan hati, kesucian pikiran, dan lurusnya laku.”

Bagaimana dengan perlakuan isteri kepada suami? Bisa dibaca sendiri di ayat-ayat sebelumnya. Kalau nasihat untuk suami cuma satu ayat, ada enam ayat panjang bagi para isteri. Cuma tidak pas kalau saya yang mengkhotbahkan ya. Baiknya memang dari sisi wanita yang mengkhotbahkan itu. Coba siapa tahu kekasih saya bersedia menuliskan sedikit khotbah untuk para isteri. Itu kalau beliaunya mau lho ya. TUHAN Yesus memberkati.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]1 Petrus 3:7
  2. [2]Efesus 5:28

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.