Merombak perintah-Nya

      No Comments on Merombak perintah-Nya

Apa itu merombak perintah-Nya? Bagaimana kita bisa merombak perintah-Nya? Hari ini kita belajar sebuah peringatan yang keras untuk tidak sembrono dengan kehidupan kita.

Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.”[1]

Jika kita baca perikop sebelumnya dari bacaan di atas, kita akan menemukan sebuah peraturan tentang dosa yang tidak disengaja. Nah, perikop tersebut ditutup dengan dua ayat di atas. Dengan tegas disebutkan bahwa yang merombak perintah-Nya adalah mereka yang memandang hina terhadap firman Tuhan, yaitu dengan cara sengaja berbuat dosa. Orang semacam ini disamakan dengan menjadi penista TUHAN.

Merombak (Ibrani: parar) perintah-Nya atau memandang hina firman TUHAN paling tidak mengandung makna-makna berikut ini.

Pertama, kata parar memiliki arti melanggar. Merombak perintah-Nya sama artinya dengan mematahkan firman TUHAN dalam sebuah tindakan melanggar firman-Nya.

Kedua, bisa juga berarti menggagalkan sebuah rencana. Ketika tindakan, niat hati, bahkan pola pikir kita sedang menggagalkan rencana kehendak Bapa, di situlah kita sedang merombak perintah-Nya.

Ketiga, merombak perintah-Nya terjadi saat kita mengatakan bahwa firman-Nya tidaklah berguna, atau sia-sia belaka. Bisa juga dimaknai saat kita menyia-nyiakan kebenaran firman-Nya, di situlah kita merombak firman-Nya.

Keempat, kata parar juga berarti mematahkan, memecah-mecah menjadi bagian-bagian kecil. Sekali lagi saya ingatkan, jangan sembarangan memenggal ayat. Jangan sampai tindakan sembrono semacam itu membawa kita kepada perombakan perintah-Nya

Kelima, merombak perintah-Nya terjadi ketika kita memberikan kesan atau efek yang salah terhadap kebenaran firman-Nya. Hati-hati, penafsiran dan pengajaran yang ngawur – yang pada akhirnya membawa kesan yang salah atau efek yang melenceng – itulah perombakan terhadap firman-Nya.

Keenam, dari kata parar rupanya menunjukkan tindakan menutupi dengan dirinya sendiri. Maksudnya begini, ketika kita menutupi kebenaran firman TUHAN dan menggantinya dengan menonjolkan diri sendiri, di situlah terjadi perombakan perintah-Nya. Hati-hati, terutama kepada sahabat-sahabat saya sesama pemberita firman, kita memberitakan kebenaran-Nya, bukan mau menonjolkan kemuliaan diri sendiri.

Mengapa saya memandang penting hal ini harus saya tuliskan adalah karena saya melihat spirit ini muncul di gereja modern. Entah sadar atau tidak, banyak terjadi perombakan firman TUHAN secara salah. Perhatikan bagaimana hukuman yang harus diterima oleh mereka yang merombak perintah-Nya, “… ia harus dilenyapkan … pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahan akan tertimpa atasnya”.

Kalau kita lanjutkan membaca ayat-ayat di atas, kita akan temukan kisah berikut.

Ketika orang Israel ada di padang gurun, didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat. Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu, menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu. Orang itu dimasukkan dalam tahanan, oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Orang itu pastilah dihukum mati; segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu di luar tempat perkemahan.” Lalu segenap umat menggiring dia ke luar tempat perkemahan, kemudian dia dilontari dengan batu, sehingga ia mati, seperti yang difirmankan TUHAN kepada Musa. TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka, bahwa mereka harus membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, turun-temurun, dan dalam jumbai-jumbai punca itu haruslah dibubuh benang ungu kebiru-biruan. Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN. Maksudnya supaya kamu mengingat dan melakukan segala perintah-Ku dan menjadi kudus bagi Allahmu. Akulah TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya Aku menjadi Allah bagimu; Akulah TUHAN, Allahmu.” [2]

Saya rasa bukanlah tanpa alasan penulis kitab Bilangan mengisahkan hal ini. Sebuah contoh dari perombakan perintah-Nya, dan juga hukuman yang sekali lagi ditegaskan oleh TUHAN sendiri. Bagaimana supaya kita jangan sampai merombak firman Tuhan? Harus ada sebuah “pengingat” — itu titah TUHAN – yang akan mengingatkan kita kepada segala perintah TUHAN, supaya kita mengingat dan melakukan segala perintah-Nya dan menjadi kudus bagi TUHAN.

Kalau begitu apakah “pengingat” itu? Saya membiarkan jawaban pertanyaan ini menjadi PR bagi masing-masing kita. TUHAN Yesus memberkati.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Bilangan 15:30-31
  2. [2]Bilangan 15:32-41

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.