Dari Simon menjadi Petrus: iman yang tulus tapi ….

Ketika Tuhan Yesus memberikan nama baru kepada Simon, yaitu Kefas atau Petrus, sepertinya Tuhan menginginkan Simon menjadi sekokoh batu karang. Nama Simon, yang diambil dari bahasa Ibrani, Simeon, berarti seorang pendengar. Sedangkan Kefas (=bahasa Kasdim) atau Petrus (=bahasa Yunani) berarti batu; karang. Tetapi pemberian tambahan nama baru ini tidak segera mengubah Simon menjadi Petrus, butuh waktu lebih dari tiga tahun, hingga Roh Kudus dicurahkan di hari Pentakosta, untuk Simon menjadi Petrus.

Saya menjadi teringat kepada tradisi penambahan nama baru saat orang Kristen dibaptis. Dipilihkan nama yang baik dari Alkitab dengan harapan orang yang baru dibaptis itu meneladani tokoh tersebut. Tetapi apakah semudah itu? Baptisan kita tidaklah dengan semudah itu mengubah hidup kita. Baptisan air dan baptisan Roh hanyalah titik awal perjuangan menjadi murid yang sejati. Dibutuhkan untuk senantiasa terus berjalan dan hidup di dalam Firman dan Roh Kudus untuk menjadi murid Kristus yang sejati.

Ingat kisah saat Tuhan Yesus berjalan di atas air yang dicatat dalam Matius 14:24-33? Markus dan Yohanes juga mencatat kisah ini, tetapi hanya Matius yang mencatat pernyataan iman Petrus yang kemudian dengan berani menyusul Tuhan Yesus berjalan di atas air. Lihat bagaimana iman Petrus yang begitu kokoh itu, iman yang tertuju kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, apabila Engkau itu …“.

Tetapi sayangnya dengan cepat iman Petrus berubah dari iman kepada Sang Pembuat mujizat menjadi iman kepada mujizat itu, “… suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Tidak salah mempercayai mujizat, tetapi jika kita menaruh iman kita kepada mujizat itu dan bukannya kepada Tuhan Yesus, maka saat datang “tiupan angin“, maka kita menjadi bimbang dan tenggelam. Jangan mempercayai mujizat, percayalah kepada Kristus Sang Pembuat mujizat itu. Di sini, ketulusan iman kita harus diluruskan.

Sekali waktu Petrus mengatakan demikian kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” (Lukas 22:33). Dan dengan segera imannya itu diuji, dan kita tahu bersama bagaimana akhirnya Petrus menyangkal Tuhan Yesus. Perhatikan ini, kita harus memiliki iman yang tulus, tetapi itu saja tidak cukup. Iman yang tulus musti disertai komitmen yang kuat dan pengabdian sepenuh hati (total submission).

Maka pertanyaan hari ini, seberapa tuluskan iman kita kepada Kristus Yesus? dan seberapa totalkah komitmen kita untuk mengikuti Dia?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.