Celathu tentang penutupan gereja

dscn7156Sebenarnya saya sudah tidak ingin menuliskan tentang penutupan gereja, tulisan saya yang sebelumnya bisa dibaca di sini. Cuma, saya melihat merebaknya sentimen agama – terutama di kalangan gereja dan orang Kristen – sebagai ancaman terhadap kesatuan bangsa ini.

Saya melihat dengan banyaknya kasus penutupan gereja, orang Kristen dan gereja tidak lagi bisa berpikir jernih, cenderung terjebak dalam kebencian dan menyalahkan pemerintah dan kalangan Muslim lainnya. Kasih yang diajarkan Kristus pelan-pelan menjadi semakin dingin. Saya tahu pasti tulisan saya yang ini menjadi jauh lebih sukar diterima oleh kalangan gereja dan orang Kristen pada umumnya. Kalaupun Anda tidak setuju ya silakan saja.

Tulisan ini secara garis besar tertuju kepada dua pihak. Pertama kepada gereja-gereja yang sedang menghadapi tekanan, dan kedua kepada Gereja. Bagi yang belum paham, gereja dan Gereja adalah dua hal yang sangat berbeda bagi saya. Silakan cermati saja tulisan saya di bawah ini.

Bagi sahabat-sahabat saya yang melayani di gereja-gereja yang sedang mengalami tekanan, sepeti GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, HKBP Setu, puluhan gereja di Aceh – dan mungkin masih banyak lagi yang tidak terekspos – perasaan saya tentang Anda sebenarnya bercampur aduk di antara dua pilihan.

Di satu sisi saya menginginkan Anda untuk tidak menyerah berjuang bagi apa yang menjadi hak Anda. Proses hukum berpihak kepada Anda, tanah dan bangunan itu juga legal milik Anda, maka layak dan sangatlah berharga untuk diperjuangkan.

Tetapi di satu sisi saya melihat hal yang lain.

Jemaat anak-anak dan manula adalah yang lebih banyak menderita. Hampir setiap Minggu mereka mendengar sumpah serapah, dilempari berbagai macam barang menjijikkan. Kadang saya bertanya apakah kita tidak sedang menjual penderitaan? Maafkan perasaan dan pertanyaan saya ini jika menyinggung.

Meskipun proses hukum berpihak kepada gereja, saya selalu berpikir bahwa kalau Anda minoritas maka tidak ada yang namanya kesamaan di muka hukum. When you are a minority there is no such equality before law. Konstitusi kita memang menjamin kebebasan beragama, tetapi sekali lagi ini tidak berlaku jika Anda adalah minoritas. Anda memegang keputusan MA sebagai kekuasaan yudikatif tertinggi di negeri ini, tetapi apa yang terjadi?

Berapa kali Anda dan kawan-kawan beribadah di depan Istana Negara? Adakah yang masih bisa diharapkan dari pemimpin negara macam ini?

Belum lagi apakah Anda tidak kasihan kepada kelompok orang-orang itu yang setiap Minggu musti menyiapkan semua barang menjijikkan untuk dilemparkan ke Anda? Apakah Anda tidak kasihan mereka kehabisan suara mengucapkan sumpah serapah kepada Anda?

Tidak kasihankah gereja kepada aparat kepolisian dan satpol PP yang bukannya melindungi Anda malahan membiarkan kelompok-kelompok itu menyerang Anda? Belum lagi bagaimana aparat-aparat hukum ini begitu susah payahnya membuat kasus kriminal melawan Anda.

Melihat itu semua, waktu saya mendengar bahwa ada pilihan untuk memindahkan lokasi gereja, saya berharap kalau Anda mengambil pilihan itu. Meskipun saya sangat yakin, kawan-kawan saya ini masih mau berjuang untuk apa yang menjadi hak mereka.

Maka kawan-kawan di GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, HKBP Setu, dan gereja-gereja lainnya, apapun pilihan Anda, doa saya ada bersama dengan Anda.

Saya beralih kepada Gereja – tubuh Kristus – khususnya di Indonesia, gereja-gereja dan orang Kristen yang tidak mengalami apa yang terjadi kepada saudara-saudara kita di atas.

Pada umumnya gereja-gereja di Indonesia mengenal apa yang disebut sebagai Panca Hari Raya Gereja.

  • Jumat Agung yang tahun ini jatuh pada tanggal 29 Maret, mengingat penderitaan dan kematian Tuhan Yesus Kristus.
  • Paskah (31 Maret) memperingati kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari kematian.
  • Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke Sorga (9 Mei).
  • Pentakosta (19 Mei), memperingati hari pencurahan Roh Kudus.
  • Natal (25 Desember), memperingati hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

Kalau boleh saya meminta kepada semua pemimpin sinode dan pemimpin gereja – demi kasih dan solidaritas kepada saudara-saudara yang sedang tertekan di atas – tahun ini saya mengajak kita untuk tidak merayakan lima hari raya itu. Tetap beribadah di hari-hari itu, tetapi tidak merayakannya. Kalau perlu secara nasional tidak usah diadakan perayaan Natal Nasional bersama, misalnya.

Ini hanyalah sekedar pernyataan sikap dan dukungan kita kepada saudara-saudara yang sedang mengalami tekanan dan diskriminasi. Sampai mereka bisa merayakan sama seperti kita. Sebuah pernyataan sikap yang nyata, “hati kami bersama dengan Anda”. Lupakah kita dengan pernyataan ini, “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita …[1].

Sayangnya saya bukan pemimpin gereja, dan saya yakin 100% kalau 99% gereja dan orang Kristen di Indonesia menolak usulan saya ini. Ini hanya ajakan, siapa tahu ada juga yang tergerak mengikuti usulan saya ini.

Richard Wurmbrand – penulis Tortured for Christ – yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya dalam penjara penuh siksaan karena menjadi orang Kristen, pernah mengatakan bahwa rasa sakit terbesar dari mereka yang teraniaya karena Kristus adalah saat mereka merasa bahwa saudara-saudara mereka di dalam Kristus mengabaikan mereka. Saya sangat tahu persis perasaan yang seperti ini.

Tidak bisakah kita mengatakan sekali lagi, “I am with them”?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]1 Korintus 12”26

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.