Memandang Tanah Perjanjian

      No Comments on Memandang Tanah Perjanjian

Konsep Tanah Perjanjian muncul pertama kali saat TUHAN Allah memerintahkan Abram, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu[1], yang kemudian ditegaskan dengan pernyataan “Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu.”[2]

Tanah Perjanjian inilah yang kemudian diingat bangsa Israel saat mereka berada di tempat pembuangan, karena janji itu juga berlaku bagi mereka. Kalau kemudian konsep Tanah Perjanjian ini dibawa kepada umat Perjanjian Baru – orang-orang Kristen, maka seharusnya kita melihat Tanah Perjanjian seperti Abraham melihatnya, bukan melalui sudut pandang bangsa Israel atau Yahudisme. Saya melihat banyaknya pengajaran yang mengidentikan kekristenan dengan Israel, sehingga banyak pemahaman menjadi tidak lagi tepat.

Kalau orang Kristen dianggap sebagai sama dengan Israel, maka Tanah Perjanjian kita adalah di Timur Tengah sana kan. Maka fokus kita akan Tanah Perjanjian akan tertuju kepada “negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya”. O’ya, ada satu pemahaman yang musti saya bagikan, yang juga baru saya temukan waktu mempersiapkan khotbah ini. Rupanya kalimat “negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” itu adalah sebuah proverbial expression. Sebuah pepatah yang umum dipakai untuk menunjukkan tempat yang lebih baik. Sejajar dengan pepatah Yahudi kuno, “m’shaneh makom, m’shaneh mazal” – Dengan perubahan tempat datang perubahan nasib.

Jadi, hanya sebuah pepatah dan tidak menggambarkan kondisi yang sebenar-benarnya. Mungkin kalau di Indonesia, setara dengan syair ini, “kata orang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Nah, kalau orang Kristen, umat Perjanjian Baru, memandang Tanah Perjanjian pada kelimpahan susu dan madunya, maka kita hanya berfokus kepada sebuah mirage, fatamorgana belaka.

Bagaimana Abraham memandang Tanah Perjanjian? Perhatikan bahwa Abraham saat sampai di Tanah Perjanjian, tidak pernah membangun rumah di sana. Alkitab menunjukkan bahwa Abraham, “berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan[3]. Penulis kitab Ibrani menangkap hal ini dengan tulisan yang indah, “Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah … Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.[4] Ini lho Tanah Perjanjian yang dinantikan Abraham, yang juga seharusnya kita nantikan, sebuah kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri.

Jangan mau diperdaya dan dibodohi dengan dikatakan bahwa Tanah Perjanjian kita ada di bumi ini, sekarang ini. Itu salah besar! Ingat saja pernyataan rasul Paulus ini, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.[5]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Kejadian 12:1
  2. [2]Kejadian 13:14-17
  3. [3] Kejadian 13:3
  4. [4]Ibrani 11:9-10
  5. [5]2 Korintus 5:1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.