Apa iya perlu se-vulgar ini? Pasti! Ini bukan saya sedang mengritik, ini bukan saya sedang berkhotbah, ini saya yang sedang menunjukkan posisi saya. Karena kalau kita mau jujur, tidak semua yang disebut worship itu adalah penyembahan.
Tahu masturbasi ‘kan? Apa fokusnya? Sensasi dan kepuasan diri sendiri! Diri sendiri!
Kalau penyembahan untuk siapa? Tuhan dan hanya Tuhan! Tahu kan posisi saya?

Saya punya gaya musik yang saya sukai, saya punya jenis-jenis lagu rohani yang saya gemari, tetapi ketika menyembah itu semuanya tidak berarti. Saat menyembah saya tidak mempermasalahkan alat musik yang digunakan, saat menyembah saya tidak peduli gaya bermusik yang dipakai, pun lagu apa yang digunakan dalam penyembahan tidak berarti bagi saya, siapa yang memimpin penyembahan bukanlah masalah bagi saya.
Penyembahan bukan tentang perasaan saya atau emosi saya. Penyembahan juga bukan tentang apakah saya merasakan hadirat Tuhan atau tidak. Penyembahan juga bukan tentang apakah saya menangis, apakah saya merinding, apakah saya seperti tersengat listrik. Penyembahan bukan tentang apa yang saya alami atau rasakan.
Tahu bedanya ya? Saya menggunakan istilah “masturbasi rohani” bukan untuk membandingkan penyembahan dengan sebuah aktivitas seksual, melainkan menunjuk kepada spiritualitas yang berputar pada kepuasan diri sendiri.
Penyembahan berubah menjadi “masturbasi rohani” ketika pengalaman menyembah Tuhan terutama dipakai untuk memuaskan kebutuhan spiritual si penyembah sendiri. Kalau setelah worship kita hanya merasa lebih enak, tetapi tidak menjadi lebih taat, lebih mengasihi, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih berani melakukan kehendak Tuhan, mungkin kita bukan sedang menyembah. Mungkin kita hanya sedang menikmati diri sendiri dengan menggunakan nama Tuhan.
Kalau worship hanya menghasilkan sensasi di gereja, tetapi tidak menyentuh cara saya bekerja, menggunakan uang, memperlakukan pasangan, mendidik anak, memperlakukan bawahan, menghadapi konflik, memperlakukan mereka yang membutuhkan, dan lain-lain, maka ada masalah yang besar dengan penyembahan saya.
Penyembahan bukan untuk membuat saya merasa lebih baik tentang diri saya. Penyembahan adalah tindakan mengarahkan seluruh keberadaan saya kepada Tuhan – dan karena itu selalu mempunyai konsekuensi terhadap bagaimana saya menjalani kehidupan.
The Message menuliskan Amos 5:23 demikian:
I’ve had all I can take of your noisy ego-music. When was the last time you sang to me?
Saya farafrasekan:
“Cukup! Aku sudah muak dengan musikmu yang cuma memuaskan egomu sendiri. Kapan terakhir kali kamu benar-benar bernyanyi untuk-Ku?”
=======<0>=======
Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
