Khotbah Di Gereja Saya Tidak Mengenyangkan

Memang demikian faktanya, ini yang saya rasakan beberapa bulan ini di gereja. Saya datang ke gereja dengan lapar – lalu pulang juga masih lapar. Curhat? Mungkin, tetapi ini rasa yang sahih, apa yang saya rasakan ini valid – paling tidak bagi saya. Ada rasa lapar yang tidak dikenyangkan, berharap ada palum dari rasa dahaga, tetapi itupun nihil.

Seringkali berpikir, ah seandainya sisi khotbah ini diperdalam, kalau bagian ini bisa dipertajam, tetapi yang saya dengar adalah khotbah yang biasa-biasa saja. Bagaimana bisa datang ke gereja dengan sukacita, kalau sudah tahu bahwa nanti saya akan pulang dengan ketidakpuasan.

Nasi gudangan dengan lele dan telur mata sapi, ditambah es kampul

Bukannya saya tidak mencari khotbah yang bisa membuat puas, puluhan mungkin ratusan khotbah di YouTube dan podcast-podcast yang saya cari. Paling hanya satu atau dua yang bisa memuaskan saya, lainnya juga sama saja. Sekedar enak dan nyaman di telinga, meninabobokkan.

Saya membawanya ke dalam doa, jiwa saya menangis, apa yang salah. Karena saya tahu pendeta saya tidak salah. Saya tahu persis bagaimana beliau ini mempersiapkan khotbahnya. Saya yakin ini juga bukan tentang gaya khotbah mereka. Cuma, selama beberapa bulan apa yang ditulis di Matius 5:6 itu tidak saya alami, saya tidak merasa dipuaskan.

Pun saya tahu benar bahwa rasa tidak puas saya ini tidak salah. Bahwa lapar dan haus ini benar adanya. Saya juga tidak akan memuas-muaskan diri saya dengan apa yang saya terima. Kalimat “cukupkan dirimu dengan apa yang ada padamu”, bukanlah jawaban untuk masalah saya ini.

Oh pasti saya bercerita dengan istri tentang masalah ini, pun kami tidak menemukan apa yang salah. Karena rupanya masalah sebenarnya bukan semua hal yang di atas.

Sebelum ke sana, apakah Anda juga merasakah hal yang sama? Mungkin merasa tidak puas dengan pujian penyembahan di gereja Anda, mungkin tidak puas dengan program-program di gereja Anda, mungkin tidak puas dengan para pelayan dan majelis di gereja Anda.

Saya menemukan di mana salahnya. Pastinya bukan rasa ketidakpuasan itu, pun bukan dengan pendeta saya atau gereja saya. Menjadi salah saat saya berharap bahwa pendeta dan gereja harus memuaskan saya! Karena bukan itu tugas gereja, bukan itu tanggung jawab pendeta.

Yes, saya memang lapar, tetapi gereja saya bukan restoran! Bukan mengapa khotbahnya tidak menyenangkan ataukah sebenarnya saya yang salah menuntut, karena seringkali lapar rohani dan menuntut gereja itu beda tipis toh.

Pada akhirnya, kita – terutama saya – harus mendefiniskan ulang tujuan kita ke gereja, untuk dipuaskan ataukah untuk diubahkan. Kalimat berikut ini saya temukan – mungkin pedas dan pahit, tetapi harus saya terima – bahwa mimbar gereja tidak akan pernah mengenyangkan lapar saya, dan tidak akan bisa membuat palum rasa haus saya.

Sekalian melanjutkan tulisan ini, sepertinya gereja juga harus berubah. Karena gereja ada bukan untuk memuaskan jemaat. Jemaat bukan kostumer, dan pendeta bukan pelayan restoran. Gereja bukan tempat untuk memuaskan selera rohani jemaat. Maka, gereja harus berhenti berusaha memuaskan jemaat, karena gereja tidak pernah lahir untuk memuaskan jemaat.

Jangan salah – mengulang kalimat saya di atas – saya tidak akan pernah berusaha mencukupkan diri dengan khotbah yang saya dengar. Saya akan memelihara ketidakpuasan ini.

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.