Prisha dan Pandemi

      No Comments on Prisha dan Pandemi
Prisha melukis

Ketika pandemi mulai menerpa negeri ini, anak saya yang pertama, Prisha, belum berusia 2 tahun. Waktu itu, saya benar-benar tidak mengizinkan anak ini keluar rumah. Bahkan kakung dan utinya pun saya larang berkunjung ke rumah.

Ini anak di usia 2 tahun sudah lancar berjalan, sudah cakap berbicara, tetapi memang mendengarkan dan nurut perkataan bapaknya. Sejak awal pandemi, saya menekankan kalimat ini: “Mbak Prisha, sekarang sedang ada corona, tidak boleh banyak ke luar rumah.”

Pernah sekali waktu, ini anak ke luar rumah. Karena saya tahu, saya beri hukuman satu minggu tidak boleh ke luar rumah sama sekali. Dan herannya, Prisha ini paham dan selama seminggu itu dia sama sekali tidak minta pergi ke mana pun.

Ketika menginjak usia 3 tahun, saya mulai mengajari dia memakai masker, dan terlebih penting selalu memberi teladan menggunakan masker dan sering-sering mencuci tangan.

Hampir dua tahun pandemi berjalan, dan anak ini semakin cerdas memahami pandemi dan corona.

Beberapa waktu lalu sepulang dari pelayanan, Prisha menghampiri saya, dan terjadi dialog berikut:

Prisha: “Bapak, masih ada corona?”
Saya: “Masih. Lha ngapa?”
Prisha: “Ya sudah. Berarti belum boleh piknik ya?”
Saya: “Belum, ‘kan masih ada corona”

Bundanya melihat sambil senyum-senyum melihat percakapan kami. Saya tanya ke bundanya ada apakah gerangan. Rupanya Prisha tadinya dipameri anak tetangga foto saat mereka sedang piknik.

Sejak saat itu doanya menjelang tidur malam dia ubah sendiri menjadi begini: “Tuhan Yesus, mbak Prisha dan dik Kinan mau bobok, berkati … eh, corona supaya cepat hilang, karena mbak Prisha mau piknik, piknik ke pantai. Amin”. Ini anak belum 4 tahun, sudah membuat kalimat doa sendiri.

Hari Sabtu kemarin, Tantenya datang mau ngajak Prisha dolan. Biasanya saya akan melarang, dan biasanya juga Prisha pasti nurut. Kali ini Prisha datang ke kamar dan bilang, “Bapak, mbak Prisha diajak pergi Tante boleh?”. Saya memperbolehkan, dengan pesan harus selalu pakai masker. Masker hanya boleh dilepas saat makan atau minum. Saya minta Prisha mengulang perintah saya.

Ceritanya di dalam mobil dibilang supaya masker dilepas — ini cerita Tantenya karena saya dan bundanya memang tidak ikut — tapi Prisha menolak dan mengatakan, “Eh, tidak boleh lepas masker, kata Bapak boleh dilepas kalau makan dan minum saja.”

Foto di atas juga mengulang kalimat yang sama, dia melukis tanpa mau melepas maskernya. Itu foto ya saat dia diajak pergi kemarin.

Ada rasa bangga saat mendengar cerita itu. Paling tidak, dengan pemahamannya yang sederhana, dia mau menurut. Ketika dia dewasa nanti, dia bisa bercerita tentang pandemi ini, dan bagaimana masker menjadi sebuah senjata yang ampuh.

Saya berharap, kami yang sudah lebih tua dan lebih dewasa bisa memberikan teladan memakai masker, ternyata dia sudah menjadi contoh bagi banyak orang di sekelilingnya.

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.