Istri melayani suami itu konsep yang abstrak bagi saya.

Bukannya tugas istri melayani suami? Nah, yang disebut melayani suami ini lho yang bagi saya itu konsep yang abstrak.

Saya tidak bisa membayangkan istri saya membuatkan teh di pagi hari, atau menyiapkan pakaian kerja, atau menyambut saya sepulang kerja, atau menunggu saya pulang dari pelayanan di (sangat) malam hari. Selama ini bukan interaksi semacam itu yang kami bangun sebagai suami istri.

Apakah karena istri saya tidak mau melakukan semacam itu? Bukan. Sekiranya saya minta, pasti juga istri dengan senang akan melakukannya. Tetapi, ya saya tidak kepikiran untuk melihatnya melakukan semacam itu.

Bisa juga karena sebelum menikah, kami adalah dua pribadi yang bisa dan terbiasa melakukan segala sesuatu seorang diri. Salah satu kalimat yang saya setujui tentang pernikahan adalah: The good time to have a partner of life is when we can live without anyone. Bisa baca tulisan lengkapnya di Kaum piyambakan: mereka yang termarjinalkan di gereja.

Gambaran jadwal sederhana kehidupan keluarga kami seperti ini.

Saya biasa bangun pagi — kadang juga kesiangan sih — jam 3. Sedikit senyum-senyum dan menyapa Sang Pemberi Kehidupan, lalu menanak nasi, mencuci pakaian kotor, menjemur cucian, sambil memasak air. Dua anak masih balita, jadi selalu sedia air panas untuk susu.

Sekitar 1/2 5, saya bangunkan istri. Gantian istri memasak, saya menunggui dua anak kami yang masih tidur. Kalau dua anak ini sudah bangun, ya bercengkerama dan bercanda sejenak dengan mereka. Yang besar diserahkan ke neneknya untuk mandi, yang bungsu diserahkan ke yang momong.

Selagi istri mandi dan persiapan berangkat kerja, saya membersihkan rumah, cuci-cuci botol susu yang kotor, dll. Gantian mandi, dan siap-siap berangkat kerja. Sarapan? Seringnya tidak sempat. Kalaupun sempat, jarang bisa bersama-sama. Seringnya istri berangkat lebih dulu, karena jam kerjanya yang lebih pagi.

Pulang kerja itu istri lebih dulu, sudah langsung nampani dua anak. Saya pulang lebih sore. Merebahkan diri sambil nonton TV? He … he … he, jelas bukan saya. Makanya saya tidak bisa membayangkan istri menyambut, sambil dicium, he … he … he. Pun saya tidak mengharapkan demikian. Ingat, masih ada jemuran yang perlu diangkat. Mandi sebentar, sudah harus keluar rumah lagi untuk pelayanan atau kegiatan lain.

Makan malam disiapkan istri? Jelas tidak. Punya dua balita itu ya gantian. Biasanya istri makan duluan, ambil sendiri. Saya menjaga anak. Biasanya yang kecil sudah tidur, yang sulung minta dikeloni. Gantian saya yang makan, ya ambil sendiri, cuci piring sendiri.

O’ya, kebiasaan mencuci perangkat masak dan makan ini kami lakukan sendiri dari menikah sampai sekarang. Kalau saya masak nasi, ya perangkatnya saya cuci sendiri. Demikian juga kalau istri masak dan makan, ya cuci sendiri.

Mungkin ada yang bertanya, “ini yakin kalian suami istri?”. Hua … ha … ha. Ya begini ini kehidupan kami. Kalau ingin minum teh, sesusah apa sih bikin sendiri. Pun lebih suka es teh ‘kan? Lebih tidak mungkin kalau saya minta istri membuatkan kopi dengan V60, bisa emosi dia.

Ada kawan-kawan yang bertanya, lelaki mencuci pakaian, menyeterika? Lhoh, apa salahnya. Anak saya yang besar itu sudah bisa memilih dimandikan siapa. Kalau dia mau dimandikan Bapaknya, ya yang memandikan Bapaknya toh.

Begini lho, saya itu diajari orang tua, tidak ada yang namanya pekerjaan istri, atau tugas suami. Kalau bisa, mengapa tidak? Makanya, saya pernah menulis status: Wong lanang sing ora gelem isah-isah lan ngumbahi iku layak dipertanyakan kejantanannya.

Nah, di kantor itu ada ibu-ibu yang biasa mengambilkan dan menyiapkan makanan untuk saya. Terima kasih sangat untuk itu. Tetapi bukannya tidak mau, saya tidak terbiasa saja diperlakukan seperti itu.

Nyaman ya berkeluarga seperti itu? Sangat nyaman kalau jawaban saya. Dan kami juga mulai mengajari anak kami yang sulung, untuk sebisa mungkin sesuai dengan usianya, melakukan hal-hal semandiri yang dia bisa. Bukan mengajari sih lebih tepatnya, mempertontonkan dan memberikan contoh.

Ingat apa kata James Baldwin, “Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them.”

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.