I am not irreplaceable

      No Comments on I am not irreplaceable

Dalam dunia kerja, menjadi irreplaceable itu adalah salah satu keunggulan yang hebat. Banyak disarankan, kalau mau bertahan dan meniti karir lebih tinggi, kita harus menunjukkan kualitas yang membuat kita dipertahankan di sana dan menjadi tidak tergantikan.

Saya punya prinsip yang berkebalikan. Seperti judul di atas, “I am not irreplaceable”, saya bukannya tidak tergantikan. Itu prinsip saya selama ini, baik di pelayanan, di komunitas, di organisasi manapun, bahkan juga di tempat kerja. Saya ini bukannya tidak tergantikan, pasti baik secara alami ataupun tidak, sekali waktu saya bisa digantikan orang lain.

Sehebat apapun saya, seahli apapun saya mengerjakan sesuatu, sepintar apapun saya, akan ada orang yang menggantikan saya. Bagi saya ini semacam hukum alam. Tinggal tunggu waktu saja, entah pendek ataupun sangat pendek, saya akan menyingkir, dan orang lain menggantikan saya.

Menanamkan pola pikir ini membuat saya lebih tenang dalam mengerjakan segala sesuatu. Karena ada beberapa hal berikut.

Pertama, pemikiran bahwa saya sangat mungkin digantikan membuat saya tidak bisa dan tidak boleh jumawa. Sebagaimana saya tuliskan di atas, keahlian saya, kepintaran saya, akan ada yang mengunggulinya. Katakanlah saya terus menerus belajar untuk memperdalam keahlian dan memperluas pengetahuan, akan ada waktunya tubuh ini tidak lagi dapat mendukungnya.

Kedua, saya menjadi tidak pelit dalam membagikan ilmu yang saya miliki. Bagi saya, ilmu itu open source, adalah hak semua orang. Tentu saja ada banyak ilmu yang saya dapat dengan membayar harga yang tidak murah, tetapi tetap saja saya dengan senang hati membagikan ilmu yang saya miliki. Saya percaya kalau — oh koreksi — saya tahu pasti bahwa Kalkulator yang di surga itu tidak pernah salah hitung.

Para sahabat saya tahu pasti ketika saya berkata, “silakan ‘manfaatkan’ saya”. Meskipun iya, ketenangan hati itu didapat saat kita mampu membedakan apakah diri saya sedang diandalkan atau sedang dimanfaatkan.

Maka, saya lebih senang dengan orang yang berkata, “Mas, ajari mengerjakan ini ya”, daripada mereka yang meminta tolong untuk mengerjakan sesuatu. Benar, jika saya menolong mengerjakannya, maka saya tidak menghabiskan banyak waktu. Bahkan saat saya mengajari orang lain, membagikan ilmu, bisa saja waktu dan sumber daya yang saya keluarkan malahan berlipat-lipat. Tetapi, membagikan ilmu lebih memberi kepuasan dan saya yakin memberi dampak yang jauh lebih baik dan lebih panjang.

Ketiga, saya tidak terlalu merasa berat untuk pergi. I am not irreplaceable itu membuat saya yakin, bahwa pasti ada orang yang mampu menggantikan saya. Jadi, kalau saya melepaskan pelayanan, keluar dari suatu organisasi, atau resign dari satu pekerjaan, tidaklah berat bagi saya. Bagian saya membagikan ilmu sudah saya kerjakan, maka kalaupun tidak ada orang baru, yang lama punya kemampuan saya.

Ketika saya melepaskan anak-anak rohani untuk hidup di luar kota, saya tahu pasti bahwa bukan saja saya membagikan ilmu, saya sudah membagikan hidup saya kepada mereka. Dan saya sangat tahu bahwa di manapun mereka berada, mereka bisa mendapatkan bapa-bapa rohani yang baru.

Jadi, mengapa merasa terancam? Saya ini bukannya tidak tergantikan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.