Alkitab tidak menuliskan Yesus lahir di kandang domba

Ketika ingin menuliskan tulisan ini, saya sudah yakin membuat judul “Yesus Kristus TIDAK Dilahirkan Di Kandang Domba”, tetapi saya menyadari bahwa judul itu membuat saya menjadi seorang legalis.

Jangan salah, dalam perenungan dan peninjauan saya akan peristiwa Natal, saya memang tidak menemukan bahwa Kristus dilahirkan di kandang domba. Berhenti dulu di situ ya.

Kisah Natal yang detail bisa kita baca dari catatan Lukas.

Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud– supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.[1]

Bagian mana yang menyebutkan kalau Yesus lahir di kandang domba? Nah, pertanyaan semacam ini jelas menyudutkan. Lalu dari mana cerita kalau Yesus lahir di kandang domba? Saya paham, salah satunya adalah ada kata palungan di sana. Dalam anggapan palungan adalah tempat makan hewan, maka diambil kesimpulan Yesus lahir di kandang domba. Ditambah lagi narasi berikutnya adalah tentang gembala domba.

Apakah ini salah? Tidak juga, boleh-boleh saja kok. Coba diingat-ingat, sepertinya kisah Yesus lahir di kandang domba ini sudah melekat sejak kita di Sekolah Minggu ya. Maka saya selalu mengingatkan para pengajar Sekolah Minggu untuk sungguh-sungguh membaca Alkitab.

Kalau Alkitab tidak menyebutkan kandang domba sebagai tempat kelahiran Kristus, artinya cerita yang selama ini kita dengan tidak tepat? Tidak demikian juga. Sekali lagi, ketika kita menjadi orang Kristen yang terbuka, maka tafsiran dan paradigma adalah hak semua orang. Saya tidak boleh menyebutkan bahwa kisah kandang domba tidak benar.

Sama juga dengan pandangan saya yang mengatakan kalau Yesus tidak lahir di kandang domba. Apakah pandangan saya tepat? Belum tentu. Tafsiran adalah ilmu, dan sebagaimana ilmu tidak punya kebenaran mutlak, maka di masa depan sangat mungkin muncul pandangan lain yang membuktikan kalau pandangan saya adalah salah.

Begini, saya membaca banyak tulisan yang teguh mengatakan kalau Yesus lahir di kandang domba. Ada nilai-nilai ilahi di sana, ada pengajaran penting di sana. Demikian juga dengan para doktor Alkitab yang menyatakan kalau Yesus tidak lahir di kandang domba.

Lalu, mana yang benar? Sepenting apakah sih tempat kelahiran Yesus? Anda dan saya boleh menafsirkan dan boleh berpendapat apapun, tetapi bagi saya yang lebih penting adalah Yesus lahir di dunia – dalam sejarah umat manusia – untuk saya dan Anda.

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Lukas 2:1-7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.