Kembali Kepada Kesederhanaan Natal

Apa yang paling kita nantikan dari Natal?
Hal apa yang paling ramai diperdebatkan oleh panitia Natal gereja?
Apakah kita menemukannya tahun ini?

Rasa-rasanya tahun ini Tuhan punya cara untuk memaksa kita menyelami kembali, menemukan makna sesungguhnya dari Natal.

Tahun ini kita masih memasang pohon Natal. Saya yakin gedung-gedung gereja kita tetap dihiasi dengan dekorasi Natal. Kemeriahan Natal yang biasanya kita saksikan mulai awal Desember? Masihkah kita menemukannya?

Karena sesungguhnya Natal bukan tentang kemeriahannya ‘kan. Kalaupun tahun-tahun lalu kita merayakan Natal, sekarang kita tersadar bahwa Natal bukan tentang perayaannya. Kali ini kita diharuskan merasakan kesederhanaan Natal.

Coba bayangkan narasi Natal yang tertulis di dalam Alkitab. Seorang wanita yang hamil tua, dalam sebuah perjalanan panjang. Didampingi oleh suaminya yang seorang tukang kayu, berada di kota yang asing, tanpa tempat untuk berteduh. Ketika bayi Yesus lahir, hanya diletakkan di palungan. Tanpa ada sanak saudara yang mendampingi, tanpa ada perayaan dan kemeriahan. Dalam kesederhanaan, Kristus lahir ke dunia. Dalam sebuah kesederhanaan yang membawa pengharapan dan kesukaan besar bagi dunia.

Iya, saya banyak mendengar bagaimana kita merasa Natal tahun ini berbeda. Natal di tengah pandemi. Natal dengan segala pembatasan. Natal di tengah ancaman.

Tetapi, bukankah itu juga yang dialami bayi kecil Yesus saat lahir ke dunia ini?

Tahun ini, ingatlah bahwa sukacita besar bagi dunia itu datang dari kesederhanaan.

=======<0>=======

Jika tulisan saya berguna untuk Anda, bolehlah sedikit saweran untuk menyemangati saya berkarya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.