Gereja sebagai agen protokol kesehatan

Dalam pelayanan kebaktian Natal 25 Desember kemarin, saya mengabadikan beberapa foto berikut ini.

Berkhotbah di Mimbar
Berkhotbah di Mimbar
tanpa jemaat
tanpa jemaat
panorama kebaktian live streaming tanpa jemaat
panorama kebaktian live streaming tanpa jemaat

Hal yang seperti ini jamak terjadi di gereja-gereja sepanjang pandemi Covid-19. Ada pendeta berkhotbah di mimbar, tetapi tidak ada jemaat di dalam gedung gereja. Hanya ada beberapa orang yang bertugas membuat rekaman atau live streaming.

Foto-foto di atas punya kisah tersendiri. Sehari sebelumnya, 24 Desember jam 3 sore saya dikabari bahwa gereja tersebut untuk dua minggu akan meniadakan semua kebaktian, dan menutup gereja. Khusus untuk tanggal 25 Desember akan diadakan live streaming tanpa kehadiran jemaat.

Rupanya ada jemaat terkonfirmasi Covid-19 yang meninggal. Saya sempat menghubungi pimpinan gereja di sana mengapa sampai harus menuntup gereja selama 2 minggu, apakah karena rumahnya dekat dengan gedung gereja. Ternyata tidak. Pimpinan gereja menjelaskan kalau sebelumnya memang ada kesepakatan kalau sampai ada jemaat yang terkonfirmasi terpapar Covid-19 – tidak peduli di mana pun tertularnya – gereja akan langsung ditutup selama minimal 2 minggu ke depan.

Maka, jadilah seperti foto di atas. Apakah jemaat tidak protes dengan pemberitahuan mendadak seperti ini? Apalagi ini kebaktian Natal ‘kan? Tidak tahu juga, tetapi kenyataannya tidak ada satu jemaat pun yang datang kemarin, hanya beberapa orang yang memang bertugas menjalankan pelayanan live streaming.

Dari sini, saya bisa mengatakan sebenarnya gereja-gereja bisa menjadi rekan kerja pemerintah, katakanlah paling tidak menjadi “juru bicara” bagi penerapan protokol kesehatan. Paling tidak, jemaat mendengar yang dikatakan gereja. Bayangkan gereja yang hanya punya jemaat 300 orang bisa taat seperti itu, bagaimana dengan yang jemaatnya ribuan.

Maka, sangatlah penting gereja menyuarakan tentang protokol kesehatan kepada jemaat, bukan hanya saat di gereja, tetapi di manapun. Susahnya kalau ada gereja yang tidak peduli dengan protokol kesehatan, kalau kata orang Jawa, “wis susah kandhanané”.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.