Perlukah pelayan pujian belajar teknik vokal?

Dulu seorang sahabat mengusulkan bahwa rasa-rasanya diperlukan training vokal bagi pelayan pujian di gereja kami. Waktu itu saya menjawab bahwa vokal itu ada di kriteria ke sekian dari seorang pelayan pujian. Tidak tahu apakah jawaban saya itu benar atau tidak, tetapi kisah saya di bawah ini pikir bisa membantu.

Di gereja kami sejak bulan Juni tahun lalu diadakan ibadah doa setiap malam. Ditugaskan beberapa orang tertentu untuk memimpin doa ini. Dalam waktu yang lama, saya tidak menghadiri ibadah doa ini. Tetapi saya rasa saya sudah mengamati cukup banyak untuk berbagi kisah ini.

Ada satu kebiasaan dari para pemimpin doa ini yang saya tidak begitu suka. Saya lho yang tidak suka, entah bagaimana pendapat orang lain. Pada saat pemimpin doa mengajak jemaat untuk memuji atau menyembah, pemimpin doa ini tanpa menunggu pemain musik memainkan alat musiknya langsung mengangkat suara menyanyikan lagu pujian. Seringnya, para pemain musik kesulitan mencari nada dasar suara dari pemimpin doa ini. Saya mengamati ini terjadi berulangkali. Bahkan ada beberapa kali saya lihat setelah satu kali dinyanyikan, baru pemain musik menemukan nada dasar pemimpin pujian tersebut.

Untung saja, kami punya pemusik-pemusik yang cukup sabar. Kalau terjadi seperti ini, mereka biasanya cuma senyum-senyum saja. Kemarin Jumat, saya hadir di ibadah doa dan diminta menolong bermain musik. Terjadi lagi hal itu, pemimpin doa langsung mengangkat suara tanpa menunggu kami memainkan intro dulu. Setelah hampir dua kali lagu dinyanyikan, baru ketemu nada dasarnya adalah F# … bayangkan F#

Jujur saja, rasanya tidak enak sekali di telinga. Jemaat sudah ikut menyanyi, mengikuti pemimpin doa yang “asal” angkat suara itu, sementara pemusik masih memain-mainkan not, berusaha mencari nada dasarnya. Bagi saya, ini mengganggu suasana penyembahan. Saya rasa diperlukan kesatuan yang harmonis waktu kita datang menyembah Tuhan. Bagi saya, sepertinya pemimpin doa begitu otoriter dan tidak mau bekerja sama dengan pemusik.

Tapi, ya meskipun telinga saya tidak bisa menerima hal itu, ada rasa tidak nyaman yang begitu mengganggu, saya cukup tahu bahwa Tuhan senang kok mendengar pemimpin doa yang “asal” menyanyi itu. Benar kan … Tuhan selalu melihat hati para penyembah, meskipun nadanya yang harusnya mayor dinyanyikan minor, harusnya G dinyanyikan D#, dan sebagainya. Tuhan Yesus selalu senang melihat umat-Nya menyembah, meskipun dengan suara yang jauh dari enak didengar telinga .

Yah … mau usul gimana, lha wong saya sendiri jarang datang doa … he … he … he! Tapi, kalau sahabat saya itu kembali menyarankan untuk membuat training vokal bagi para pemimpin pujian, setelah pengalaman selama ini, saya tidak tahu harus bilang apa.

O’ya, sekalian sedang nge-blog, saya juga mau cerita ada satu kebiasaan pemimpin-pemimpin doa yang saya tidak begitu suka. Kalau mereka ini berbincang-bincang atau bicara sehari-hari, mereka seperti orang yang “cakap” bicara (baca= cerewet), tapi kalau sudah memimpin doa, kebanyakan mereka ini suaranya bisa mendayu-dayu, semacam dibuat-buat tidak alami gitu lho.

Wuits, stop! Kok jadi menghakimi nih saya. Okelah, selalu Tuhan yang lebih tahu hati orang toh. Siapa saya berani menghakimi mereka? Wong datang doa saja jarang kok menghakimi . Nanti dibilang banyak omong baru tahu rasa!

Kembali ke pertanyaan di atas, “apakah pelayan pujian perlu belajar teknik vokal?”. Jawab sendiri ya … ! Kalau sahabat saya bilang, “jawabannya ada di hati nurani masing-masing!”

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.