Tidak ada “pemain bintang” di dalam pelayanan pemuda

Bayangkan sejenak tentang sebuah kelompok olah raga — bayangkanlah kesebelasan favorit Anda. Keberhasilannya tidak dapat disebabkan oleh satu faktor saja; beberapa faktor bergabung menghasilkan kesuksesan. Satu kelompok yang berhasil lebih kuat dibandingkan satu pemain yang luar biasa. Kelompok tersebut juga harus memiliki pemain-pemain kunci, pendukung, seorang pelatih utama yang memotivasi, pelatih-pelatih pembantu yang berpengalaman, suatu posisi dalam pasar agen bebas, seorang pemilik yang berani mengambil resiko, perkantoran yang produktif, dan sistem perusahaan yang kuat (atau keberuntungan atas konsep tersebut). Rata-rata penggemar olah raga tidak mempertimbangkan semua faktor ini ketika mereka menonton pemain tim favorit mereka. Sebaliknya, mereka memusatkan perhatian pada pemain terbaik tim tersebut dan dengan salah mengasumsikan bahwa keberhasilan tim diakibatkan oleh pemain hebat tersebut.

Sayangnya, banyak orang dalam gereja memandang pelayanan remaja dan pemuda dengan mentalitas yang sama. Mereka mencari seorang pemain yang hebat (pelayan kaum muda dan remaja) yang mampu mendapatkan hak suara (pelayanan kaum muda dan remaja) dan mengembangkan sebuah tim sukses (para pelayan sukarelawan) yang akan menarik para penggemar (para kaum muda dan remaja). Begitu seorang pemain hebat dikenali (entah seorang pendeta atau seorang sukarelawan), para pemilik (dewan pengurus gereja, panitia pemilih, gembala senior) mengatur urusan-urusan lainnya yang mendesak di dalam organisasi (gereja). Jenis skenario ini biasanya menghasilkan suatu misi bunuh diri bagi pemain “bintang”. Dia bertugas dengan penuh antusias dan latihan-latihan (pelayanan) tanpa henti, mencoba untuk mencapai keberhasilan (banyak kaum muda dan remaja dan program) untuk menyenangkan para pemilik. Namun untuk menyenangkan semua orang, si pemain harus berlari (seringkali tanpa tahu ke mana) dengan sangat keras dan cepat untuk jangka waktu yang lama di mana akhirnya dia merasa lelah dan terluka (kelelahan rohani) dan harus diganti (berhenti atau dipecat). Pada titik ini para pemilik ikut campur dan mencari pemain hebat lainnya untuk membawa tim keluar dari kekalahan. Siklus tersebut dimulai lagi tanpa ada landasan untuk membangun, karena pemain “bintang” itu merasa beban untuk menang ada pada dirinya.

Sebuah pelayanan kaum muda dan remaja yang sehat adalah sebuah pelayanan tim. Sebuah pelayanan yang tidak dibangun dan bergantung pada satu orang pelayan yang hebat dan tidak akan hancur ketika orang tersebut meninggalkan gereja.

Tiap-tiap orang dalam pelayanan kaum muda dan remaja adalah sama pentingnya. Tidak pernah ada satu pun yang lebih penting atau kurang penting dibandingkan yang lainnya.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.