Warisan gereja mula-mula bagi gereja modern (bagian #1)

Terima kasih kepada sahabat saya, yang sudah menginspirasi tulisan ini. Sahabat saya ini adalah seorang mahasiswa teologia tingkat akhir. Dalam pengalaman pelayanan, beberapa kali Tuhan utus sahabat saya ini melakukan perjalanan misi ke beberapa daerah dan pulau-pulau di Indonesia. Seringkali jika ada pertanyaan-pertanyaan yang bersifat teologis, saya bertanya kepada sahabat saya ini.

Kemarin, kami terlibat dalam sebuah sesi tanya jawab via sms. Tanya jawab itulah yang menginsipirasi tulisan ini. Berikut ini saya tuliskan sms di antara kami:

Dia : “Mas … apa gereja mula-mula dapat jadi cermin gereja sekarang? Benar tidak statement ini … ‘harta gereja adalah orang-orang miskin yang menjadi tanggung jawab gereja‘?”

Saya : “Tidak terbalik ini, tanya ke saya? (karena dia yang sekolah teologia kan) Sebenarnya gereja mula-mula adalah model gereja yang alkitabiah yang ditunjukkan oleh alkitab sendiri. Jadi aku rasa seharusnya gereja masa kini bercermin kepada gereja mula-mula. Tentang pernyataan ‘harta gereja adalah orang-orang miskin‘, saya tidak bisa menyatakan benar atau salahnya. Tetapi saya menyatakan setuju dengan pernyataan itu. Gereja yang tidak menaruh kasih kepada mereka yang memerlukan hanyalah ‘kambing’ dan bukan ‘domba’ (Matius 25:31-46).”

Dia : “Apa dalam hal tidak punya gedung, di rumah-rumah, hak milik, juga dapat dijadikan patron?”

Saya : “Secara subjektif saya jawab ‘ya’! Hanya saja hal ini akan masuk ke dalam ranah tafsiran. Tentang gedung gereja, banyak hamba Tuhan akan menyatakan bahwa gereja mula-mula tidak membutuhkan gedung karena mereka ada dalam kelompok-kelompok kecil dan juga sedang dalam masa penganiayaan. Tentang hak milik akan dijawab kalau jemaat waktu itu berpikir bahwa Kristus akan datang kembali dengan segera dan harta tidak lagi bernilai.
Secara umum, gereja masa kini akan menerima prinsip-prinsip ilahi gereja mula-mula asal saja sesuai dengan konteks masa kini. Tetapi sekali lagi jika jawaban yang dibutuhkan subjektif, saya pasti menjawab YA!”

Dia : “Pantesan gereja sekarang tidak sehebat gereja mula-mula, baik dalam kuasanya maupun kasihnya. Hempfh … ironis!”

Saya : “Yah, begitulah mas. Cuma mesti disadari bahwa seiring dengan perkembangan zaman, fokus gereja juga mengalami perubahan. Itu yang harus disayangkan”.

Dia : “Sebenarnya keadaan waktu dulu dengan sekarang sama tho? Penganiayaan, kebutuhan, serta pelayanan yang terjadi sebenarnya tidak beda-beda amat dengan sekarang. Toh, sebenarnya gak ada yang salah tho?”

Saya : “Yup, benar. Cuma kalau sudah masuh ranah penafsiran, prinsip=prinsip ilahi menjadi tidak begitu berarti lagi”

Dia : “Hempfh … iya juga ya … Mendingan diterapkan harafiah ya … kayak wong Yahudi itu”

Saya : “Harafiah yang dilingkupi kasih dari Surga dan urapan Roh ”

Sebuah percakapan (via sms) yang sangat berkesan dan berbobot bagi saya. Yang membuat saya ternganga adalah bagaimana sahabat saya ini membuat kesimpulan perbandingan kuasa gereja mula-mula dan gereja masa kini berdasarkan gaya hidupnya. Keren!

Okay, saya lanjutkan besok ya tulisan ini. Saya akan menulis tentang bagaimana sesungguhnya gaya hidup gereja mula-mula itu sehingga — menurut sahabat saya itu — dikatakan lebih berkuasa. Saya harus berangkat dulu, ada pelayanan nie

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.