Biblical mentoring: Barnabas dan Paulus

Barnabas merupakan orang yang bisa memperngaruhi orang lain. Ia melihat potensi dalam diri Saulus (yang kemudian menjadi rasul Paulus) ketika yang lain masih menjaga jarak. Pertobatan Saulus mengubah pengikut fanatik Yudaisme ortodoks yang cemerlang ini menjadi seorang penginjil Kristus dan pembela kekristenan yang tidak kenal rasa takut. Orang-orang Yahudi dan juga para murid yang pertama takut padanya dan tidak berani mengizinkannya untuk bergabung dengan mereka. “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul …” (Kisah Para rasul 9:27). Barnabas tidak terintimidasi oleh petobat baru ini, bahkan ia menariknya dan menjaminnya. Tidak diragukan lagi, ia mendorong dan mengajar Saulus selama masa-masa awal itu dan dengan sabar menemaninya karena tahu bahwa waktu dan pengalamanlah yang segera akan membentuk dan mematangkan pemimpin muda yang berbakat ini.

Beberapa waktu kemudian ketika Injil tersebar ke Antiokhia dan “sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan” (Kisah Para Rasul 11:21), para rasul mengirim Barnabas (si pemberi semangat) ke kota itu untuk memastikan bahwa hal itu benar adanya. Ketika melihat bahwa Injil memang benar sudah menghasilkan buah dan bahwa kasih karunia Allah sedang bekerja, Barnabas tahu bahwa mereka membutuhkan pengajaran dan pertumbuhan. Jadi, ia pergi ke Tarsus untuk mencari Saulus dan membawanya kembali ke Antiokhia untuk membantu di sana, karena ia merupakan seorang pengajar yang sangat handal dan memahami pemikiran dan budaya Yunani. Barnabas (si mentor) mengetahui lingkungan pertumbuhan dan tantangan seperti apa yang dibutuhkan oleh Saulus agar bisa bertumbuh, dan ia menriknya ke dalam lingkungan tersebut. Puji Tuhan ada orang seperti Barnabas dan untuk karunia yang diberikannya kepada gereja dengan menaruh minat kepada Saulus muda! Ada berapa banyak Saulus di dalam gereja hari-hari ini yang menunggu munculnya seorang Barnabas?

Alkitab juga mencatat bahwa Barnabas dan Paulus pernah mengalami perbedaan pndapat. Hal ini wajar dalam proses mentoring, tetapi sebuah penyelesaian ilahi dapat dengan mudah menyelesaikan semua masalah yang bisa timbul di dalam mentoring.

Menariknya, Barnabas melakukan tugas yang menyeluruh terhadap Saulus sehingga Saulus sendiri di kemudian hari mengambil para menteenya sendiri. Orang-orang muda seperti Titus, Timotius, Silas, dan bahkan pasangan Akwila dan Priskila. Saulus kemudian menjadi begitu yakin dengan pentingnya mentoring dan pemultiplikasian rohani sehingga ia menulis kepada para menteenya, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercaya, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Timotius 2:2).

Beberapa prinsip penting dari hubungan mentoring Barnabas dan Paulus yang bisa kita ambil sehingga seorang mentor bisa membantu menteenya:

  • Kemampuan untuk bisa melihat potensi dalam diri seseorang dengan cepat
  • Toleransi terhadap kesalahan, kekurangajaran, kekasaran, dan sejenisnya untuk bisa melihat potensinya berkembang
  • Kefleksibelan dalam menanggapi orang dan keadaan
  • Kesabaran, dengan mengetahui bahwa waktu dan pengalaman dibutuhkan untuk perkembangan
  • Perspektif, dengan memiliki visi dan kemampuan untuk melihat ke depan dan menyarankan langkah-langkah selanjutnya yang dibutuhkan oleh seorang mentee
  • Karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan yang membangun dan mendorong orang lain
  • Kata-kata nasihat dan wawasan yang tepat waktu
  • Sumber-sumber daya seperti misalnya surat-surat, artikel-artikel, buku-buku, dan sebagainya

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Biblical mentoring: Barnabas dan Paulus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.