Berbicara dengan anak-anak remaja kita

mentoringBerbicara dengan anak-anak kita yang sedang bertumbuh remaja seringkali menjadi hal yang menakutkan bagi kita. Seperti memasuki sebuah jurang misteri tanpa dasar. Kita kuatir akan bagaimana reaksi mereka, apa yang harus kita ungkapkan. Kita takut jangan-jangan kita salah menghadapi mereka.

Satu hal yang saya tahu pasti adalah mereka ingin berbagi dengan kita. Mereka ingin kita menjadi pendengar bagi mereka. Sayangnya seringkali karena kekuatiran dan ketakutan, kita memandang anak-anak kita ini dengan sedikit salah.

Tim Elmore dalam tulisannya The Art of Being Present With Your Students, memberikan beberapa langkah praktis.

1. Saat mereka memulai bercerita, hentikan apapun yang sedang Anda kerjakan.

Mereka bukannya tidak tahu situasi dan kondisi, sepanjang pengalaman saya, anak-anak ini setiap kali ingin berbagi selalu menanyakan apakah saya ada waktu, atau apakah saya sedang tidak mengajar atau tidak mengerjakan apapun. Tunjukkan bahwa kita memang sungguh-sungguh mau mendengarkan mereka.

2. Fokuskan pandangan ke mereka dan tersenyumlah saat mereka mengungkapkan pikiran atau isi hati mereka.

3. Jika perbincangan berlanjut lebh dalam, matikan atau paling tidak aktifkan mode diam gawai kita.

Pesan singkat yang masuk, BBM, atau email bisa sangat mengganggu atmosfer percakapan yang sedang terbangun. Usia remaja adalah usia yang sensitif, mereka akan langsung tahu apakah bagi kita mereka lebih penting dari yang lain.

4. Anggukan kecil, tawa ringan, bahasa tubuh sederhana adalah hal yang penting untuk menunjukkan bahwa kita memahami meraka dan berempati terhadap mereka.

5. Sesekali berilah pertanyaan singkat untuk menunjukkan bahwa kita menangkap apa yang mereka sampaikan.

6. Jangan dulu berpraduga akan keberadaan mereka, hindari kalimat-kalimat yang menghakimi.

7. Setulus-tulusnya dengarkan mereka, dan rasakan setiap emosi mereka.

8. Ketika waktunya kita berbicara, tegaskan bahwa mereka adalah pribadi yang bernilai.

Jika ada satu lagi yang boleh saya tambahkan dari delapan langkah praktis di atas adalah kalimat ini “Dengarkan dengan mata, lihat dengan telinga”.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.