Apakah saya cukup sabar?

      No Comments on Apakah saya cukup sabar?

“Kok bisa sesabar itu ya?” Itu pertanyaan yang sering diajukan ke saya, bahkan kekasih hati pun menanyakan hal yang sama. Saya tidak tahu apakah saya seorang yang sabar, karena saya sepertinya bukan tipe pemarah. Pemarah mungkin bukan salah satu karakter daging saya, tetapi kalau pendendam jelas ya. Maka lebih banyak khotbah dan tulisan saya tentang pengampunan, lha wong juga pergumulan pribadi – mengkhotbahi diri sendiri lah yang pertama 🙂

Meski bukan pemarah, tetapi saya tentu saja cukup sering marah, dan sepanjang pengalaman saya kemarahan saya tidak pernah mendatangkan kebaikan, malah semakin runyam. Maka saya rasa hal kesabaran bukanlah pergumulan yang berat untuk saya. Namun demikian, akan saya tunjukkan apa yang saya pelajari dari Alkitab tentang kesabaran. Boleh juga sebelumnya kalau membaca dulu tulisan saya tentang buah roh kesabaran dan hupomeno.

Kesabaran itu adalah salah satu buah dari manajemen kemarahan. Jujur saja, saya belajar salah satu prinsip manajemen kemarahan ini dari kekasih hati. Jadi, di sini akan saya bagikan bagaimana kami berdua merespon kemarahan. Sangat berbeda, mungkin bertolak belakang, tetapi sama-sama punya dasar ayatnya. Yaelah … marah saja punya dasar ayatnya 🙂 Memang pada awalnya kami tidak tahu ada penjelasan Alkitab tentang respon kami berdua ini, tetapi kami belajar prinsip ilahi lebih dalam dari kebenaran Alkitab.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;[1]

Yang ini cara saya merespon kemarahan. Perhatikan bahwa tidak ada pernyataan bahwa orang Kristen tidak boleh marah. Yang ada adalah nasihat supaya lambat untuk marah. Saya memaknai demikian, Alkitab dengan jujur mengakui bahwa amarah adalah salah satu bagian integral dari kemanusiaan manusia, bukan sesuatu yang harus dihilangkan, melainkan dikendalikan. Bagaimana bisa lambat untuk marah?

Post this at all the intersections, dear friends: Lead with your ears, follow up with your tongue, and let anger straggle along in the rear.[2]

Kalau saya sangat-sangat jarang marah karena keadaan, biasanya bisa marah kalau memang ada orang yang membuat marah. Prinsipnya kemarahan saya harus diletakkan di prioritas paling belakang. Saya akan bertanya dalam hati mengapa orang itu bisa membuat saya marah, hal apa saja yang sedang terjadi kepadanya beberapa jam terakhir. Melihat dengan telinga dan mendengar dengan mata, apa yang menjadi akar perilaku orang itu. Pada akhirnya, karena terlalu lama berpikir, akhirnya tidak jadi marah. Biasanya orang-orang yang sukar adalah orang-orang yang mengalami kesukaran. Seringkali mereka yang membuat kita marah, sesungguhnya membutuhkan kasih kita yang paling tulus.

Maka, meskipun saya marah, sangat jarang orang lain tahu kalau saya sedang marah. Beda dengan kekasih saya, kalau sudah marah, orang akan tahu bahwa dia sedang marah. Kalau sedang marah dia memilih untuk berdiam diri atau mendiamkan. Kami menemukan dan belajar prinsip ilahi tentang kemarahan dari kebiasaannya ini. Pasti tahulah ayat yang ini:

Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.[3]

Nah, yang baru kami tahu rupanya ayat ini merupakan kutipan dari Mazmur.

Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.[4]

Berkata-kata di dalam hati tetapi tetap diam di sini tidak berarti memendam amarah dan menggerutu di dalam hati. Bukan seperti itu.

Don’t sin by letting anger control you. Think about it overnight and remain silent.[5]

Complain if you must, but don’t lash out. Keep your mouth shut, and let your heart do the talking.[6]

Diam di sini punya tujuan, supaya kemarahan tidak membabi-buta dan menjadikan kita berdosa. Diam di sini adalah merenungkan dan mempertimbangkan kemarahan kita, membuka hati kita untuk percakapan dengan Tuhan.

Mungkin respon kami berdua terhadap kemarahan sedikit berbeda, tetapi prinsipnya sama. Kemarahan adalah sesuatu yang alami, tetapi harus dikendalikan supaya kita tidak berdosa karena kemarahan. Kesabaran adalah mengendalikan kemarahan. Maka, saya sangat setuju dengan pernyataan Pengkhotbah, “… kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar”.[7]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yakobus 1:19
  2. [2]James 1:19 – The Message
  3. [3]Efesus 4:26
  4. [4]Mazmur 4:4
  5. [5]Psalms 4:5 – New Living Translation
  6. [6]Psalms 4:5 – The Message
  7. [7]Pengkhotbah 10:4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.