Gusti ijik pekèwuh?

      1 Comment on Gusti ijik pekèwuh?

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”[1]

Rupanya kini Tuhan masih belum berterus terang. Sebagaimana ayat di atas, di hari-hari terakhir ini banyak orang bernubuat, banyak orang mengusir setan, banyak orang mengadakan mujizat, dan sepertinya Tuhan membiarkan mereka. Tetapi ada waktunya Dia akan berterus terang. Kalau di dalam bahasa Jawa, Gusti bakalan blaka suta.

Ing wektu iku bakal pada dakblakani …[2]

Pada waktu Tuhan akan to the point, tidak akan ada yang ditutupi, semuanya dibukakan. Mengapa tidak sekarang dilakukan-Nya? Apakah karena Tuhan pekèwuh? Tentu saja tidak demikian. Yang jelas Tuhan punya waktu-Nya sendiri, dan kalaupun bukan sekarang, itu karena Tuhan masih memberi waktu kepada kita untuk bertobat.

Bagaimana bisa mereka yang bernubuat, mereka yang mengusir setan, mereka yang mengadakan mujizat ditolak oleh Tuhan? Pertama, karena bukan itu yang dicari Tuhan. Bukan prestasi-prestasi itu yang dikehendaki Tuhan, bukan pencapaian pelayanan yang semacam itu yang menjadi standar Tuhan. Kedua, karena bernubuat, mengusir setan, atau mengadakan mujizat tidak selalu berhubungan dengan kesalehan dan ketaatan.

Petrus menjelaskan tentang ini di Serambi Salomo.

Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah. Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah. Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah. Mereka menatap dia dan Petrus berkata: “Lihatlah kepada kami.” Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka. Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah, lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya. Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Petrus melihat orang banyak itu lalu berkata: “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?[3]

Perhatikan ayat 12, “mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang ini berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?”. Berulang kali saya menyatakan kalau dalam sebuah ibadah terjadi mujizat itu tidak pernah karena pengkhotbahnya. Kalau saya berdoa dan yang sakit sembuh secara mujizat, itu tidak ada urusannya dengan saya. Saat saya sedang melayani dan terjadi mujizat, itu pun tidak ada kaitannya dengan saya. Bisa paham kan?

Coba perhatikan beberapa terjemahan Alkitab lainnya berikut:

… you should not be so surprised about what you have seen. You should not look at us so much. Perhaps you think that we ourselves are powerful. Maybe you think that we are very good people. But we are not so powerful or so good that we could cause this man to walk.[4]

… mengapa Saudara-saudara heran akan hal ini? Mengapa kalian melihat terus pada kami? Apa kalian kira orang ini dapat berjalan karena ada kuasa pada kami atau karena kami taat kepada Allah?[5]

… what is so surprising about this? And why stare at us though we had made this man walk by our own power or godliness?[6]

Nasihat yang indah dari rasul Petrus sendiri. Kalau ada yang mengadakan mujizat, atau bernubuat, atau mengusir setan, tidak perlu terlalu terheran-heran, aja gumunan. Juga jangan memandang mereka terlalu tinggi.

Mari menjagai diri kita supaya kelak tidak ditolak oleh Tuhan. Jangan sampai di sana Dia mengatakan, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”. Di sana kita tidak bisa lagi berbuat apa-apa, keputusan tertinggi dan terakhir sudah dibuat-Nya. Selagi masih ada waktu, mari berjuang mencapai prestasi tertinggi dalam pelayanan. Prestasi tertinggi dalam pelayanan itu adalah melakukan kehendak Bapa.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Matius 7:21-23
  2. [2]Mateus 7:23 – Jawa
  3. [3]Kisah Para Rasul 3:1-12
  4. [4]Acts 3:12 – Easy English
  5. [5]Kisah Para Rasul 3:12 – Bahasa Indonesia Masa Kini
  6. [6]Acts 3:12 – New Living Translation

1 thought on “Gusti ijik pekèwuh?

  1. Pingback: Melakukan pekerjaan yang lebih besar | Martianus' Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.