Elihu: sahabat yang benar di kala kesesakan

Masih dalam jadwal pembacaan Alkitab kitab Ayub, saya menemukan diri saya termasuk ceroboh dan tidak teliti. Kita tahu bahwa di masa penderitaannya Ayub didatangi oleh sahabat-sahabatnya yang bermaksud menghiburnya. Siapa saja mereka?

Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naama. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia.[1]

Unsung HeroesSama, saya pun juga menyangka hanya ada tiga orang ini: Elifas, Bildad, dan Suah. Rupanya ada orang keempat yang ikut menasihati Ayub. Ya, dan saya baru sadar sekarang, namanya adalah Elihu. Pandangannya tentang Allah diungkapkannya kepada Ayub dalam pasal 32-37.

Dibandingkan tiga sahabat Ayub lainnya, Elihu ini unik dan berbeda. Paling tidak dari sisi usia, Elihu lebih muda daripada Ayub dan ketiga sahabatnya, dan sepertinya perbedaan usia mereka cukup jauh. Dan yang lebih unik ada di bagian penutup kisah Ayub.

Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.” Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.[2]

Terhadap Elifas, Bildad, dan Zofar murka Tuhan menyala karena mereka tidak berkata benar tentang Dia. Apakah disebutkan Elihu di sana? Logika saya sederhana, berarti pandangan dan pernyataan Elihu tentang Allah adalah benar. Bisa saja logika ini salah, mengingat kitab Ayub memang bukan kitab yang dikategorikan sebagai kitab puisi, maka bukan kitab yang mudah. Tetapi, kalau Elihu salah mustinya disebutkan juga oleh Allah.

Apa saja pandangan dan pernyataan Elihu tentang Tuhan kita bahas lain waktu. Perhatikan dulu bagaimana sahabat-sahabat Ayub ini berbicara tentang penderitaan dan tentang Tuhan. Jika kita mempunyai sahabat yang menderita, dorongan untuk menghibur itu begitu kuat. Tetapi dalam usaha kita menghibur itu – apa yang sekarang disebut gereja sebagai pelayanan konseling – harus berhati-hati, jangan sampai maksud yang baik itu ternyata malahan mendatangkan murka Allah.

Apakah kita akan menjadi seperti Elifas, Bildad, dan Zofar ataukah menjadi seperti Elihu saat kita bersama dengan mereka yang menderita?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Ayub 2:11
  2. [2]Ayub 42:7-9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.