Ati kang sarèh

      No Comments on Ati kang sarèh

Kemarin saya tuliskan tweet berseri tentang “Ati kang sarèh”. Bisa dibaca di sini.

Sekarang saya akan menuliskannya dengan lebih lengkap.

Ati kang sarèh iku nyegeraké awak, nanging watak drengki iku ngroposaké balung.[1]

Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.[2]

A sound heart is the life of the flesh but envy the rottenness of the bones.[3]

Yakin, kalau diminta berkhotbat dalam bahasa Jawa, persiapannya bisa satu bulan. Lebih mudah mengartikan satu kata dalam bahasa Yunani, daripada memaknai sebuah kata dalam bahasa Jawa. Kamus biblika Yunani mudah kita temukan dan digunakan, untuk kamus bahasa Jawa, masih belum ada yang bisa menyusunnya dengan lengkap.

Kalau Amsal 17:22 kan sudah cukup terkenal, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang”. Nah, yang Amsal 14:30 ini saya yakin tidak banyak yang memperhatikan. Saya sudah belasan kali menyelesaikan pembacaan Alkitab, baru kali ini tertumbuk dengan ayat satu ini.

Maka, memaknai “ati kang sarèh” ini terbukti sukar. Saya bertanya kepada orang-orang yang paham bahasa Jawa, dan ditemukan banyak makna. Terjemahan Alkitab bahasa Indonesia sebagai “hati yang tenang” kurang mencukupi maknanya. Orang Jawa memaknai “ati kang sarèh” lebih dalam daripada sekedar hati yang tenang.

Terjemahan bahasa Inggrisnya memaknainya sebagai kondisi mental dan pikiran yang sehat. Kalau dalam bahasa Ibrani digunakan kata marpe’. Konteksnya dipakai untuk menunjuk kesembuhan setelah sakit, mungkin pas dibahasakan sebagai hati yang dipulihkan. Secara kiasan bisa juga dimaknai sebagai hati yang mengalami pelepasan; atau hati yang tidak tercemari hal-hal negatif.

“Ati kang sarèh” itu selain bermakna hati yang tenang, bisa juga diartikan sebagai sikap hati yang sabar, tidak terpancing emosi, tidak mudah emosi, tidak grusa-grusu, teduh, mengambil keputusan dengan bijak. Sebuah kondisi hati yang luar biasa, dan sekaligus tidak mudah untuk digapai.

Oleh penulis Amsal ini, dikontradiksikan dengan watak drengki. Bukan sekedar iri hati, tetapi memang sudah watak atau karakter yang senang iri. Qin’ah kalau bahasa Ibraninya; dengki, iri, cemburu.

Saya menyimpulkan, kalau dalan konsep Perjanjian Baru, “Ati kang sarèh” itu sepertinya gabungan antara eirene, makrothumia, dengan egkrateia. Apa itu? Ah, cari sendiri saja ya, tinggal klik 🙂

Jadi, apakah kita punya “Ati kang sarèh”?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Wulang Bebasan 14:30
  2. [2]Amsal 14:30
  3. [3]Provebs 14:30

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.