Shalom: bukan sekedar sebuah salam

Glasses on Open Bible ca. 2001[id]Ada yang bertanya kepada saya, mengapa dalam khotbah atau waktu dulu menjadi worship leader saya tidak pernah menyapa jemaat dengan kata “Shalom” dan lebih sering menggunakan sapaan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Jawa. Bukannya saya anti menggunakan bahasa Ibrani, hanya saja saya merasa bahwa di gereja sekarang ini, ada penyempitan makna dari kata “shalom” ini dibandingkan apa yang dinyatakan oleh Alkitab. Kata shalom sekarang ini hanya menjadi sekedar salam seperti kata “hai”, “selamat pagi”, “salamat malam”, dan semacamnya.

Benar bahwa salah satu penggunaan kata shalom di dalam Alkitab maupun dalam tradisi Ibrani adalah sebagai sebuah salam. Tetapi saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi bahwa kata-kata dalam bahasa Ibrani bermakna lebih dari sekedar pelafalan ucapannya saja. Setiap kata dalam bahwa Ibrani membawa perasaan, maksud, dan juga emosi. Tidak seperti yang selama ini dipahami bahwa shalom berarti “damai sejahtera bagimu”, shalom adalah spirit sukacita yang sempurna dan utuh karena adanya hubungan yang harmonis.

Berdasarkan Strong, kata shalom berarti sempurna, utuh, sehat, damai, sejahtera, aman, sentosa, nyaman, tenang, harmonis, ketiadaan gejolak, perselisihan, maupun perpecahan. Bagaimana di gereja kita bisa percaya diri mengatakan shalom sementara masih ada begitu banyak perpecahan dan perselisihan, bukankah itu munafik?

Bagaimana di gereja kita bisa percaya diri mengatakan shalom sementara masih ada begitu banyak perpecahan dan perselisihan, bukankah itu munafik?Yesaya menggambarkan kondisi shalom ini dengan begitu indahnya, “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.”[1]

Satu lagi, bukankah Shalom itu salah satu nama dari Tuhan Yesus Kristus, “…. seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; …. namanya disebutkan orang …. Raja Damai.” [2]. Saya percaya bahwa shalom yang sejati hanya bisa tercapai kalau seseorang memiliki hubungan yang harmonis dengan Sang Raja Damai. Lha wong masih senang berselisih di dalam gereja, senang mencerca, senang menghakimi kok berani-beraninya omong “shalom” itu lho, apakah itu tidak menghina pemegang nama Raja Damai?[/id]

[en]Someone asked me why in my preaching or when I became a worship leader, I never use “Shalom” to greet in the church, and prefer to use bahasa Indonesia or Javanese greetings. It’s not that because I dislike Hebrew, but I thought that the use of word shalom in church – especially in Indonesia – just like when someone said “Hi”, “Hallo”, or “How are you?”.

It is true that the word shalom in Bible or in Jewish tradition is used – one of them – as a greeting. But most know that the Hebrew words go beyond their spoken pronunciation. Each Hebrew word conveys feeling, intent and emotion. Shalom is more then just simply peace; it is a complete peace. It is a feeling of contentment, completeness, wholeness, well being and harmony.

According to Strong’s Concordance shalom means completeness, wholeness, health, peace, welfare, safety soundness, tranquility, prosperity, perfectness, fullness, rest, harmony, the absence of agitation or discord. How can we be so confidence using shalom as greeting in church while there are so many agitation and discord inside?

How can we be so confidence using shalom as greeting in church while there are so many agitation and discord inside?Isaiah the prophet described the word shalom so beautifully, “Also the wolf shall dwell with the lamb, and the leopard shall lie down with the kid; and the calf and the cub lion and the fatling together; and a little child shall lead them. And the cow and the bear shall feed; their young ones shall lie down together; and the lion shall eat straw like the ox. And the suckling child shall play on the hole of the asp, and the weaned child shall put his hand on the adder’s den. They shall not hurt nor destroy in all My holy mountain; for the earth shall be full of the knowledge of Jehovah, as the waters cover the sea.”[3]

Last but not least, Shalom is one of Christ name, isn’t it? “For to us a Child is born, to us a Son is given; …. and His name shall be called …. The Prince of Peace.”[4]. I believe that the true shalom can be achieved by someone just by having a harmony relationship with the Jesus Himself. So, how someone can be so dare to use the word shalom when he or she have no harmony relationship with the Prince of Peace?[/en]

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Yesaya 11:6-9
  2. [2]Yesaya 9:5
  3. [3]Isaiah 11:6-9
  4. [4]Isaiah 9:6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.