“Radikal ke dalam, toleran ke luar”: saya dan Pluralisme

Hampir semua agama memegang prinsip eksklusivisme. Jika kekristenan disebut sebagai agama, maka prinsip eksklusivisme ini juga melekat kepadanya. Eksklusivisme di sini dikhusukan dalam hal keselamatan (=salvation).

Kekristenan memegang prinsip ini dengan berdasarkan pada Kisah Para Rasul 4:12, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.

Pluralisme

Pluralisme sering disebut sebagai kebalikan dari eksklusivisme. Paul F. Knitter dalam The Myth of Religious Superiority: A Multi-Faith Exploration, menunjuk seorang pluralis adalah “mereka yang tidak memandang agamanya sebagai satu-satunya iman yang benar dan satu-satunya jalan menuju keselamatan kekal”. Maka, saya membuat kesimpulan bahwa pluralisme memandang semua agama di dunia ini sebagai kendaraan ilahi yang unik, berbeda, dan sekaligus sahih untuk membawa umatnya kepada keselamatan (-keselamatan) kekal.

Donald A. Carson dalam bukunya The Gagging of God mengidentifikasikan tiga bentuk pluralisme.

  • Pertama, yang dia sebut sebagai empirical pluralism, yaitu menunjuk kepada sebuah kenyataan bahwa kita memang hidup di dalam dunia dan masyarakat yang plural (=bermacam-macam).
  • Kedua, yaitu cherished pluralism. Hal ini menunjuk kepada sikap, pandangan yang menerima dan menghargai sistem sosial masyarakat yang plural.
  • Ketiga, adalah philosophical pluralism, yang menekankan bahwa semua agama di muka bumi ini adalah sahih dan sederajad, serta menolak anggapan hanya satu agama yang benar.

Pluralisme di dalam Alkitab

Perjanjian Lama ditulis dalam latar belakang budaya yang plural. Jauh sebelum TUHAN Allah menyatakan diri-Nya kepada Israel, bangsa-bangsa sudah memulai membentuk agama-agamanya sendiri. Penyembahan kepada allah-allah dan tuhan-tuhan atau dewa-dewa mewarnai sejarah Perjanjian Lama.

Pelayanan Tuhan Yesus di dunia dimulai dalam konteks sosial plural yang sama. Romawi yang menjajah tanah Israel menyembah banyak dewa mereka sendiri dan sekaligus mengadopsi tuhan-tuhan dari bangsa-bangsa yang mereka duduki.

Gereja perdana bahkan mengalami konteks plural ini dalam pelayanannya, maka tidak heran akan munculnya ajaran-ajaran yang bernafaskan gnostik, dan munculnya tulisan-tulisan yang “berlawanan” dengan Perjanjian Baru.

Rasul Paulus dalam Roma 14, menghadapi masalah yang sama di dalam gereja. Bukan berkenaan dengan prinsip-prinsip kebenaran, tetapi “hanya” masalah makanan dan minuman. Bukannya memberikan sebuah keputusan hukum yang mutlak, mana yang benar dan mana yang salah, Paulus malahan menyarankan sebuah prinsip cherished pluralism.

Saya dan pluralisme

Jonathan Swift menyatakan, “We have just enough religion to make us hate, but not enough to make us love one another”.

Jelas saya menyetujui dan menghargai empirical pluralism dan cherised pluralism. Tetapi saya tidak bisa menerima philosophical pluralism. Kekristenan yang saya pegang selama ini berdasarkan pada dua prinsip utama, kebenaran dan toleransi.

Meskipun saya tidak menerima philosophical pluralism, saya menghargai kebebasan setiap orang untuk memilih imannya masing-masing. Saya tidak akan mengabsahkan atau mengaminkan iman yang dianut orang lain, tetapi saya jelas menolak untuk “memaksa” orang mengikuti iman saya. Meskipun saya tidak menyetujui kebenaran agama yang Anda anut, toleransi itu berarti bahwa saya menerima perbedaan Anda dengan saya. Saya akan tetap memperjuangkan kebebasan setiap orang untuk beragama, meksipun saya tidak menyetujui kebenaran agama itu. Saya rasa kita semua sudah cukup dewasa untuk bisa berbeda tanpa harus saling membenci.

Prinsip yang sama juga saya ambil dalam komunitas gerejawi. Saya tidak bisa memaksakan kebenaran yang saya pegang kepada orang lain, sementara mereka memegang prinsip mereka sendiri. Jelas, saya akan menyuarakan kebenaran yang saya pegang beserta dengan dasar-dasarnya. Jelas, bahwa saya dengan tegas menyebutkan ajaran-ajaran yang melenceng bahkan saya anggap sebagai ajaran “sesat”. Tetapi, saya akan dengan kuat akan menahan diri untuk mengatakan orang lain sebagai “orang sesat”. Itulah prinsip toleransi yang saya pegang.

Tetapi, sudah saya tuliskan di atas, bahwa saya juga memegang prinsip lainnya, yaitu kebenaran. Saya meyakini bahwa kebenaran itu hanya tunggal. Kalau saya mengatakan “matahari itu terbit di barat”, dan Anda menyatakan “matahari terbit di timur”, maka tidaklah mungkin kedua-duanya adalah benar. Salah satu haruslah benar, dan yang lainnya adalah salah.

Kalau saya menolak ada jalan keselamatan lain di luar Tuhan Yesus Kristus, maka saya mengutip tulisan Paul Little dalam How to Give Away Your Faith.

“Baik kejujuran maupun kesungguhan beriman tak dapat menciptakan kebenaran. Iman tidak lebih sah daripada obyek yang kepadanya iman disandarkan. Masalah utamanya adalah masalah KEBENARAN. Misalnya ada agama yang bidang moral dan etikanya sangat mirip dengan Kristen, tetapi keduanya bertentangan tentang satu masalah penting, ‘Siapakah Yesus Kristus?’. Ada yang menyangkal bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Kedua paham iman ini tidak dalan sekaligus BERSAMA-SAMA benar. Pasti yang satu benar; yang lain tidak benar. Jika pokok dasar Kekristenan salah, iman kita tidak berarti.

Masalah tadi mengandung beberapa aspek emosional. Orang-orang Kristen tidak fanatik, picik, atau takabur waktu mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan kepada Allah. Orang-orang Kristen TIDAK PUNYA pilihan lain karena Yesus Kristus sendiri yang mengatakan demikian.”

Berkenaan dengan kebenaran yang saya pahami dan pegang, saya akan radikal terhadap diri sendiri. Berkenaan dengan kebenaran yang orang lain pegang, saya menghargai dalam prinsip toleransi, bukannya philosophical pluralism. Dalam keradikalan saya atas kebenaran yang saya pegang, maka pasti saya akan terus menyuarakan kebenaran itu. Saya harap, Anda pun menunjukkan prinsip toleransi yang sama.

Jika saya mempercayai kebenaran yang saya pegang, maka implikasi logisnya adalah saya berharap orang lain untuk menghidupi juga kebenaran itu, tetapi jelas bukan dengan paksaan.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.