Ajukan pertanyaan yang tepat

Yang saya tuliskan di sini adalah prinsip yang selama ini saya terapkan saat belajar Alkitab. Saya tidak menyuruh Anda mempertanyakan kebenaran Alkitab, tetapi dengan kritis mengajukan pertanyaan yang tepat.

Tidak ada batas pertanyaan yang bisa Anda tanyakan. Semakin dalam Anda menggali, semakin dalam kebenaran yang bisa Anda dapatkan. Kalau Anda bingung pertanyaan apa yang perlu diajukan, Anda bisa menggunakan prinsip jurnalisme 5W + 1H (Who, Where, When, Why, What, How).

WHO

Tanyakan siapa penulisnya, tanyakan siapa yang terlibat, buat rincian apa saja keterlibatan mereka. Juga perlebar dalam konteks penulisannya, kepada siapa waktu itu tulisan itu ditujukan.

Ada tulisan-tulisan yang ditujukan untuk pribadi-pribadi tertentu. Prinsip “who” ini sekaligus memberikan penjelasan kalau ada tulisan yang ditujukan untuk seseorang, apakah itu juga ditujukan untuk kita. Contohnya kitab Filemon pada awalnya ditujukan Paulus hanya untuk Filemon berkaitan dengan Onesimus. Mempertanyakan “who” memperjelas prinsip-prinsip untuk diterapkan dalam hidup kita sekarang.

WHERE

Tanyakan di mana lokasi kejadiannya, apakah ada konteks historis berkaitan dengan tempat itu. Contohnya, untuk memahami saat Tuhan Yesus mengutuk pohon ara, kita perlu memahami konteks historis tanah Israel. Juga saat memahami kemusafiran Abraham, atau perjalanan bangsa Israel di padang gurun.

WHEN

Tanyakan kapan peristiwa terjadi, katakan apakah tulisan itu telah terjadi, sedang terjadi di waktu itu, sudah terjadi di masa depan pada masa lampau (nubuatan Perjanjian Lama yang telah digenapi), ataukah tulisan itu ditujukan untuk masa depan.

Contohnya, kitab Wahyu adalah tulisan rahasia kepada jemaat berisi penghiburan atas apa yang sedang terjadi pada waktu itu, dan juga sekaligus dipahami sebagai nubuatan yang belum terjadi.

WHY

Pertanyakan alasan, latar belakang pemikiran, keputusan-keputusan yang diambil. Perhatikan konteks permasalahan yang sedang terjadi saat penulisan.

WHAT

Pertanyakan prinsip-prinsip ilahi yang terkandung di dalamnya. Saya ingatkan, Alkitab adalah makanan bagi jiwa dan roh, bukan urusan kedagingan kita, maka utamakan prinsip-prinsip rohani.

HOW

Pertanyakan bagaimana kita bisa mengalami apa yang dituliskan di dalam Alkitab. Kalau sedang membaca tentang berkat, jangan sekedar mengamini, tanyakan bagaimana kita bisa mengalaminya.

Apa yang saya tuliskan di atas hanyalah kerangka pertolongan saja. Sekali lagi saya katakan tidak ada batasan apa yang bisa kita pertanyakan kepada Alkitab, selama kita punya motivasi yang tulus untuk belajar dan memperagakan kebenaran ilahi.

Bagi saya, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat sesungguhnya adalah menemukan apa yang saya sebut sebagai “timeless truth”, kebenaran yang tidak bergantung waktu. Secara sederhananya adalah menemukan prinsip-prinsip tekstual dan kontekstual.

Begini, Alkitab ditulis dalam konteks waktu yang berbeda dengan waktu sekarang. Sehingga kita perlu menemukan “timeless truth” itu. Contohnya, rasul Paulus menasihatkan kepada jemaat perempuan di Korintus untuk memakai tudung kepada saat berdoa, dan perempuan tidak boleh berbicara dalam pertemuan jemaat. Apakah ini bisa diterapkan sekarang, apakah sekarang saat di gereja semua perempuan harus bertudung, atau berarti tidak boleh ada perempuan yang berbicara memimpin ibadah?

Nah, kalau mau menggali sedalam ini jelas kita perlu alat bantu kan? Saya menyarankan beberapa hal:

  1. Bergabunglah dalam komunitas yang mendukung pembelajaran Alkitab secara benar. Bersahabatlah dengan orang-orang yang mengasihi Firman Tuhan. Merekalah alat Tuhan untuk menolong kita menangkap kebenaran sejati.
  2. Gunakan alat-alat bantu Alkitabiah. Ada banyak dijual Alkitab yang sudah cukup bagus penjelasannya atau beli konkordansi Alkitab. Juga bisa gunakan aplikasi Bible Study yang dengan mudah dan gratis kita unduh dari internet. Jangan malas belajar, sesekali galilah Alkitab sampai kepada bahasa aslinya.

Kalau ada yang bertanya, mengapa perlu belajar Alkitab sampai sedalam ini, bukankah kita bisa mendengar dari pengkhotbah dan pengajar yang lebih cakap dari kita? Prinsip pribadi saya adalah, saya tidak mau sekedar “disuapi” makanan yang sudah “dicerna” oleh orang lain. Meminjam istilah sahabat-sahabat di komsel, saya tidak akan membiarkan kehidupan saya di “el-bi-tri” ditentukan oleh orang lain.

Sebelumnya |

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.