The Pilgrim’s Progress: pergumulan Christian

Christian, digambarkan sebagai seorang pria dengan pakaian seadanya, membawa sebuah buku di tangannya, dan beban berat di pundaknya. Berulang-ulang dia membaca buku yang ada di tangannya, sambil menangis dan menahan emosi yang begitu kuat, hingga akhirnya Christian berteriak, “Apa yang harus kuperbuat?[1]

Dalam kebingungannya, Christian kembali ke dalam rumah, dan mengatakan kepada istri dan anak-anaknya bahwa kota tempat tinggal mereka ini akan ditimpa api yang turun dari langit, dan mereka harus bergegas mencari cara supaya mereka bisa selamat. Istri dan anak-anaknya memandang Christian dengan penuh haru, bukan karena mereka setuju dengan dia, tetapi mereka berpikir bahwa ada sesuatu di pikiran Christian yang menyebabkannya berlaku seperti orang gila, dan mereka menyuruh Christian untuk tidur. Dengan harapan dia akan membaik keesokan harinya.

Tetapi esok harinya emosi Christian semakin tidak karuan. Dia menghabiskan sepanjang hari sendirian di kamarnya, kadang-kadang membaca, kadang berdoa, kadang pergi ke tempat sunyi juga untuk membaca dan berdoa. Hingga dalam tangisnya dia kembali berseru, “Apa yang harus kubuat, supaya aku selamat?[2]

Kemudian datanglah seorang laki-laki bernama Evangelist, menanyakan kepada Christian mengapa dia menangis. Christian menjawab dia, dan menanyakan apa yang harus diperbuatnya.

Evangelist itu menjawab, “Larilah, dari murka yang akan datang![3]

Ke mana?”, tanya Christian.

Evangelist bertanya “Tahukah kamu ‘pintu yang sesak’ itu?[4]

Tidak tahu”, jawab Christian.

Apakah kamu bisa melihat pelita yang bercahaya[5] itu?”, tanya Evangelist.

Ya, aku rasa aku bisa melihatnya”, kata Christian.

Selalu arahkan matamu pada pelita itu, dan engkau akan sampai ke pintu yang sesak itu”, perintah Evangelist.

Christian mulai berlari dan terus berlari. Istri dan anak-anaknya berteriak menahan dia dan memintanya kembali. Tetapi Christian sudah mengambil keputusan, dia berlari sambil menutup telinga dan berteriak “Hidup kekal! Hidup kekal!”. Tidak sedetikpun Christian menoleh ke belakang.[6]

*************

Sebagaimana Christian, kita sudah membaca Alkitab bahwa dunia dan segala isinya ini akan menemui kebinasaannya. Apakah kita akan mengambil keputusan seperti Christian, untuk mengikuti Alkitab sebagai pelita, menuju “pintu yang sesak” itu, tanpa menoleh ke belakang?

Sebelumnya | Selanjutnya

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

  1. [1]Kisah Para Rasul 2:37
  2. [2]Kisah Para Rasul 16:30
  3. [3]Matius 3:7
  4. [4]Matius 7:13
  5. [5]Mazmur 119:105; 2 Petrus 1:19
  6. [6]Kejadian 19:17

2 thoughts on “The Pilgrim’s Progress: pergumulan Christian

  1. Pingback: The Pilgrim’s Progress: Pengantar

  2. Pingback: The Pilgrim’s Progress: Obstinate dan Pliable

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.