Yousef Nadarkhani divonis hukuman mati

Kalau Anda mengikuti berita mancanegara atau hastag di Twitter, saya yakin Anda sudah mendengar berita ini. Apalagi kalau Anda menaruh perhatian khusus kepada gereja-gereja teraniaya di muka bumi ini. Yousef Nadarkhani adalah seorang gembala jemaat dari Church of Iran, salah satu di antara sekian banyak gereja bawah tanah yang ada di negara Iran.

Konstitusi negara Iran memang dengan tegas menjamin kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama yang dipeluk oleh setiap warga negaranya. Meskipun demikian, Iran juga menerapkan hukum syariat — kalau di Indonesia mirip perda khusus di Nanggroe Aceh Darussalam — yang berlaku untuk seluruh orang yang tinggal di sana. Salah satu hal yang dilarang adalah murtad dari agama Islam, berpindah ke agama lain. Ancaman untuk hal ini adalah hukuman mati, dan bisa dibatalkan seketika asalkan yang bersangkutan mau kembali ke Islam.

Pada bulan September 2009, pihak berwajib menangkap Nadarkhani di rumahnya karena secara terbuka mempertanyakan mengapa murid-murid yang beragama selain Islam diwajibkan untuk mengikuti pelajaran agama Islam. Pengadilan berdasarkan syariat dimulai pada September 2010 dengan tuduhan pemurtadan dari agama Islam. Nadarkhani divonis hukuman mati pada November 2010, sementara pengacaranya mengajukan banding.

Pengadilan banding diadakan Juni 2011 yang menguatkan keputusan sebelumnya, hanya saja pengadilan masih mempertanyakan apakah Nadarkhani sebelumnya beragama Islam. Pada waktu itu sepertinya masih ada pengharapan, karena Nadarkhani sejak awal tidak pernah beragama Islam. Sehingga dia tidak bisa dihukum dengan hukum syariat.

Tanggal 25 September kemarin pengadilan memutuskan bahwa Nadarkhani tidak pernah menganut ajaran Islam, tetapi tetap dianggap bersalah karena pemurtadan terhadap leluhurnya yang beragama Islam. Hal ini berarti bahwa hukuman mati terhadap Nadarkhani tetap berlaku. Karena pengadilan ini berdasarkan hukum syariat dan bukan berdasarkan konstitusi Iran, maka eksekusi terhadap Nadarkhani bisa dilakukan kapan saja, bahkan tanpa pemberitahuan kepada keluarga sekalipun.

Dunia internasional sudah bereaksi mengirimkan protes untuk hal ini, bahkan Kongres Amerika Serikat sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Apa yang akan kita lakukan?

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.