Mentoring model Yunani dan model Ibrani

Mentoring bukanlah sebuah konsep yang baru. Dalam budaya Yunani kuno dan Ibrani kuni, mentoring sudah dikerjakan dalam bentuk-bentuk tertentu. Keduanya memiliki “model” mereka sendiri untuk melakukan pemuridan.

Contohnya adalah bagaimana Socrates memuridkan Plato; Plato memuridkan Aristoteles; Aristoteles memuridkan Alexander the Great. Meskipun demikian, model pemuridan Yunani berbeda dengan model pemuridan Ibrani. Model Ibrani sudah digunakan oleh umat Allah selama bertahun-tahun, terutama selama zaman Alkitab.

Model Yunani juga sering disebut sebagai model “ruang kelas”. Hal ini terjadi saat para guru sedang melakukan tugas mereka di depan dan para murid secara pasif mendengarkan kuliah. Proses ini lebih bersifat akademis, dan juga bersifat penalaran dan kognitif. Hanya saja, model ini bersifat pasif. Meskipun ini merupakan metode tercepat untuk mengalihkan informasi kepada orang atau kelompok lain, cara ini bukanlah metode belajar yang paling efektif untuk murid-murid.

Pembelajaran terjadi lebih efisien lewat model Ibrani, di mana guru atau mentor mengundang murid-muridnya untuk bepergian bersama mereka. Tidak diragukan lagi, si mentor banyak berbicara lewat pengajaran yang bersifat lisan, tetapi ini bukanlah satu-satunya sarana yang mereka miliki. Mereka memperlihatkan prinsip-prinsip yang mereka inginkan untuk dimiliki dan dipakai oleh para murid dalam konteks kehidupan yang nyata. Kemudian, mereka membiarkan para murid melakukannya sendiri. Mereka mengerti bahwa cara terbaik untuk belajar adalah dengan mengalami sesuatu secara langsung. Akhirnya, mereka memberi waktu untuk bertanya dan memberikan umpan-balik. Mereka menyediakan pertanggungjawaban dan penilaian.

 MODEL YUNANI MODEL IBRANI
 Model Ruang Kelas   Model Pelatih
 Akademis  Relasional
 Pasif  Berdasarkan Pengalaman
 Teoritis  Pelatihan Kerja Nyata (On the Job Training)

Kedua metode pembelajaran ini mendapat nama mereka dari budaya di mana keduanya dipopulerkan.

Tuhan Yesus memperlakukan para murid-Nya lebih sebagai orang-orang yang magang (apprentice), daripada sebagai akademisi. Mereka sedang berada dalam “pelatihan kerja nyata”. Kita bisa membayangkan betapa cara seperti itu pasti akan mempercepat laju pembelajaran mereka!

Kenyataannya adalah, inilah intisari dari mentoring. Yaitu pengenalan bahwa manusia “memperoleh” kebenaran jauh lebih cepat kalau dipelajari dari hubungan dan pengalaman daripada lewat ruang kelas yang gersang.

Referensi: “Mentoring”, Tim Elmore

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.