Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

image taken from http://honest2blog.wordpress.com/

Dhuh, Rama kawula ingkang wonten ing swarga, asma Paduka mugi kasucekaken. Kraton Paduka mugi rawuh. Karsa Paduka mugi kalampahan wonten ing bumi kadosdene wonten ing swarga. Kawula mugi kaparingan rejeki kawula sakcekapipun ing dinten punika. Saha Paduka mugi ngapunten kalepatan kawula, kadosdene kawula inggih ngapunten ing tetiyang ingkang kalepatan dhateng kawula. Punapa dene kawula mugi sampun ngantos katandukaken dhateng ing panggodha, nanging mugi sami Paduka uwalaken saking piawon. Awitdene Paduka ingkang kagungan kraton saha wisesa tuwin kamulyan salami-laminipun. Amin.

Kutipan di atas adalah Doa Bapa Kami dalam bahasa Jawa. Di gereja setiap hari Minggu saya mengucapkan hal ini, bahkan sekarang pun setiap hari yang berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus ini. Saya akui, dulu saya hanya sekedar mengucapkan, tetapi 2-3 bulan ini saya belajar memaknai Doa Bapa Kami ini dari seorang pendeta, dan menemukan pengilhaman yang luar biasa.

Mungkin banyak yang bertanya, apa pentingnya berdoa dengan Doa Bapa Kami? Bagi saya, ini doa menjadi khusus karena diajarkan sendiri oleh Tuhan Yesus. Rasanya aneh, kalau Tuhan dan Juruselamat itu mengajar kita sebuah doa tetapi kita tidak melakukannya. Meskipun harus diingat dan dicamkan bahwa Doa Bapa Kami bukanlah sebuah jimat, bukan pula sebuah rapalan atau mantera! Ini adalah doa yang diajarkan khusus oleh Tuhan Yesus bagi murid-murid-Nya.

Salah satu perubahan yang saya alami adalah berdasarkan Matius 6:11 “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”. Ayat ini bukan saja mengubah cara saya berdoa tetapi juga gaya hidup dan sekaligus berkat yang mengalir dalam hidup saya. Dulunya saya adalah orang yang kalau berdoa tentang berkat (baca: uang) selalu berfokus kepada “berkelimpahan”, persis seperti doa Yabes. Apakah itu salah? Tidak! Sekali lagi, saya sedang memilih untuk fokus meneladani Tuhan Yesus dan menjalankan ajaran-ajaran-Nya.

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” paling tidak mengandung dua makna. Pertama, perhatikan frase “pada hari ini”, dalam beberapa Alkitab terjemahan bahasa Inggris dituliskan kata “daily”, dalam bahasa Yunani digunakan kata “semeron”. Yang dalam hal ini mengajarkan kepada kita tentang hubungan dengan Tuhan adalah komunikasi sehari-hari. Tuhan Yesus tidak mengajarkan berdoa untuk meminta berkat pekan depan, bulan depan, tahun depan, karena Dia ingin berjumpa dengan kita setiap hari — a daily conversation. Sudahkah kita berbincang-bincang dengan-Nya hari ini?

Makna kedua, ada dalam kata “secukupnya”. Kalau kita baca dalam kutipan bahasa Jawanya, kata “makanan” digunakan kata “rejeki”. Jadi tidak berarti sempit tentang makanan saja, tetapi tentang berkat secara umum. Fokus kita adalah di kata “secukupnya”. Yah, Tuhan Yesus mengajarkan untuk meminta dalam takaran secukupnya, sebesar apa yang sesungguhnya kita perlukan. Hal ini, menurut saya adalah untuk menjaga hati kita dari keserakahan atas berkat.

Rasul Paulus juga mengajarkan prinsip yang sama dengan hal ini, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Timotius 6:6-8). Sekarang ini saya belajar setiap hari berkata, “Tuhan, hari ini berkat secukupnya ya”, dan mengatakan dalam hati “asal ada makanan dan pakaian, cukup”, sebagaimana rasul Paulus mengatakannya.

Jangan salah mengerti dengan berkata, masakan cukup hanya makanan dan pakaian. Makna yang lebih dalam adalah tentang mencukupkan diri dengan apa yang kita perlukan, bukan dengan apa yang kita inginkan. Ketika saya berkata “secukupnya”, Tuhan tahu benar bahwa kadangkala saya juga harus beli bensin, musti beli pulsa, musti bayar pajak, dan keperluan-keperluan lainnya. Cukup itu kan relatif, cukup bagi saya belum tentu cukup bagi Anda. Yang saya alami adalah, Tuhan mengerti benar di mana kecukupan itu dalam hidup saya.

Semenjak saya mendoakan “rejeki secukupnya” ada perubahan besar yang baru sepekan ini saya sadari. Rupanya sekarang — saya berani mengatakan ini — hampir setiap hari selalu saja ada uang yang masuk. Saya ambil contoh uang ini supaya spesifik saja, berkat itu jauh lebih luas dari sekedar uang. Saya mengatakan hampir setiap hari, karena saat saya teliti hari-hari yang saya lalui, rupanya jika di satu hari saya tidak memerlukan mengeluarkan uang, maka juga tidak ada uang yang masuk. Jangan salah, gaji bulanan dan tahunan tetap masuk seperti biasa. Tetapi uang harian yang saya terima ini, sungguh rejeki yang luar biasa.

Bahkan, sebenarnya tidak bisa disebut rejeki secukupnya, karena rejeki harian secukupnya ini sesungguhnya masih berlebih bagi saya. Dua minggu ini saja saya menerima uang 5 digit setiap harinya, apa tidak berlebih itu? Sungguh baik Tuhan Yesus. Tetapi memang karena hari-hari ini, saya memerlukan uang itu. Saya tidak sedang bermaksud sombong menyaksikan berkat-Nya. Saya juga tidak sedang mengatakan inilah kunci berkat. Saya sedang menuliskan apa yang saya alami saat saya mengerjakan apa yang diajarkan Tuhan Yesus.

Saat saya tiba di satu hari di mana saya tidak menerima uang satu rupiah pun, saya mengucap syukur kepada Yesus, bahwa Dia terus mencukupkan apa yang saya perlukan. Sekali lagi, bagi saya “cukup” itu tentang keperluan, bukan keinginan. Berhenti berfokus kepada berkat-berkat dunia, dan mengejar harta surgawi, itulah yang Tuhan Yesus ajarkan pada saya, hari-hari ini.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.