Mur dalam kehidupan Tuhan Yesus

Mur mendapat tempat yang khusus di dalam Alkitab. Penggunaannya sangat beragam baik di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru. Dalam tradisi Yahudi dan juga dalam ilmu kesehatan kuno, mur ini adalah bahan atau resep yang begitu penting.

Mur adalah getah damar yang salah satu khasiat bagi tubuh manusia adalah mengencangkan kulit. Hal ini tampak dari perawatan kecantikan yang dilakukan selama 12 bulan kepada para gadis yang dipersiapkan menjadi ratu bagi raja Ahasyweros di dalam kitab Ester. Mur termasuk golongan rempah-rempah pahit (berasa pahit), namun seringkali menjadi resep penting dalam campuran dengan wangi-wangian lain yang lebih harum seperti kemenyan dalam berbagai formula.

Mur juga digunakan dalam dua persiapan kudus untuk ibadah dan pelayanan kepada Allah di kemah suci Musa. Mur ini digunakan, baik dalam pembuatan minyak urapan yang kudus maupun dalam campuran yang lebih padat yang dibakar di hadapan Tuhan sebagai ukupan yang kudus. Kedua persiapan ini dipandang begitu sakral dan kudus sehingga siapa pun yang menggunakannya untuk kepentingan pribadi atau orang biasa akan dihadapkan pada hukuman mati.

Yang saya mau bagikan adalah di dalam Perjanjian Baru, secara menakjubkan mur digunakan juga dalam kehidupan Tuhan Yesus.

Pertama, pada waktu kelahiran-Nya, orang-orang Majus dari Timur datang mempersembahkan – salah satunya – mur kepada Raja yang baru lahir (Matius 2:11). Kalau ada benda yang sampai dipersembahkan kepada raja, itu artinya benda itu bernilai begitu berharga. Mur adalah benda yang sangat berharga.

Kedua, peristiwa ini terjadi di rumah Simon, orang Farisi yang bisa kita baca kisahnya dalam Lukas 7:36-38. Tuhan Yesus diurapi kaki-Nya oleh “seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa” dengan air mata dan buli-buli pualam berisi minyak wangi. Dalam bahasa aslinya, minyak wangi ini disebut “muron”, semacam mur suling yang mahal dalam bentuk cairan yang dapat diteteskan atau salep yang dapat dioleskan. Ini adalah gambaran yang paling murni dari pahitnya pertobatan yang menuntun kepada manisnya pengampunan dan penerimaan surgawi.

Ketiga, saat Yesus diurapi untuk kedua kalinya. Seorang perempuan mengurapi Tuhan Yesus dengan muron sekali lagi di Betania, di rumah Simon, si kusta, tetapi kali ini yang diurapi adalah kepala-Nya (Matius 26:6-13). Yesus menyatakan bahwa urapan itu adalah persiapan bagi penguburan-Nya. Di sini sekali lagi, mur berfungsi sebagai minyak urapan kepahitan.

Keempat, ketika Tuhan Yesus disalibkan, mur dicampurkan dengan anggur oleh seorang prajurit Romawi lalu diberikan kepada Yesus tidak lama sebelum kematian-Nya (Markus 15:23), mungkin karena manfaatnya sebagai astrigent dan obat. Mur seringkali dikaitkan dengan pertobatan dan penyucian, atau dipisahkan bagi Allah.

Mengapa Yesus menolak minuman itu? Mungkinkah karena misi-Nya adalah untuk memikul dosa seluruh dunia – sehingga Ia sepenuhnya menjadi berdosa? Tindakan yang menyimbolkan pertobatan akan membatalkan misi-Nya, Ia harus memikul seluruh hukuman bagi dosa kita sehingga menjadi terpisah dari Bapa.

Kelima, waktu Tuhan Yesus dikubur, mur merupakan salah satu wangi-wangian dan rempah pilihan yang digunakan untuk membungkus tubuh Tuhan setelah kematian-Nya (Yohanes 19:39-40).

Mur ini terjalin erat dengan kehidupan Yesus, dari kelahiran-Nya sampai penguburan-Nya – bahkan menyemarakkan kubur tempat kebangkitan-Nya dari antara orang mati! Seperti itulah keharuman pertobatan dan kemurnian seharusnya teranyam ke dalam setiap aspek kehidupan kita.

Penerapan-penerapan rohani dari mur menunjukkan bahwa sepertinya keharuman pengurapan bukanlah satu opsi yang dapat Anda pilih. Anda harus memiliki mur!

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.