Warisan gereja mula-mula bagi gereja modern (bagian #3): “Doa Bersama-sama”

Yang saya mau bagikan sekarang adalah warisan yang lain dari gereja mula-mula. Saya percaya warisan ini yang membuat gereja mula-mula sanggup bertahan dan bahkan bertahan di tengah masa kesukaran waktu itu.

Kisah Para Rasul 1:14 menyatakan demikian, “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama …”. Banyak gereja menggunakan istilah prayer meeting, ibadah doa, dan istilah-istilah lain, tetapi pada prinsipnya Alkitab menunjukkan sebuah prinsip ilahi gereja yang disebut “doa bersama-sama”. Apakah tidak bisa orang Kristen berdoa sendiri-sendiri? Jelas bisa! Tetapi sebagai gereja, sebagai sebuah komunitas, prinsip ilahi ini harus kita teladani, DOA BERSAMA-SAMA.

Banyak gereja yang mengerjakan ini, bahkan ada yang setiap hari mengerjakannya di dalam gereja. Mengapa gereja perlu untuk doa bersama-sama?

Pertama, doa bersama-sama menguatkan mereka yang memerlukan kekuatan.

Bisa Anda bayangkan kondisi Kisah Para Rasul 1, waktu 120 orang itu berkumpul di loteng untuk berdoa. Yesus, Guru dan Sahabat yang selama ini menemani mereka sudah terangkat ke Surga meninggalkan mereka. Saya menyebutkan bahwa murid-murid ini seakan-akan mengalami lagi peristiwa “ikabod”, saat kemuliaan itu diangkat dari mereka. Pasti mereka membutuhkan kekuatan baru untuk masuk ke dalam suasana yang baru ini, ingat 10 hari itu Roh Kudus belum turun, dan Tuhan Yesus secara fisik tidak lagi bersama dengan mereka. Mereka merasa sendirian! Doa bersama-sama adalah jawaban mereka.

Kedua, doa bersama-sama adalah tempat yang diurapi di mana gereja menerima kuasa.

Baca Kisah Para Rasul 2, saya kok percaya bahwa Roh Kudus diturunkan saat mereka sedang berdoa bersama-sama. Saya berpikir bahwa kuasa yang dijanjikan Tuhan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8 tidak akan diturunkan jika mereka tidak dalam doa bersama-sama.

Ketiga, doa bersama-sama adalah sumber kekuatan di saat aniaya.

Di dalam Kisah Para Rasul 4, kita melihat bagaimana sikap dan reaksi gereja saat aniaya datang. Ya, mereka menanggapi aniaya dengan doa bersama-sama, dan apa yang terjadi … “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani” (Kisah Para Rasul 4:31). Mereka takut? Sama sekali tidak! Mereka semakin berani memberitakan firman Allah.

Keempat, doa bersama-sama membawa kelepasan bagi mereka yang terikat.

Ingat saat rasul Petrus dipenjara, apa yang dikerjakan gereja? Mereka berdoa bersama-sama (Kisah Para Rasul 12:5). Dan yang terjadi adalah ada kelepasan secara mujizat. Bahkan saat Petrus mengunjungi rumah Maria, ibu dari penulis Markus, Alkitab mencatat gereja yang tetap berdoa. Jika ada jemaat yang terikat dan membutuhkan kelepasan secara mujizat, berdoalah bersama-sama.

Kelima, doa bersama-sama menjangkau jiwa-jiwa melalui pelayanan misi.

Masih di kitab Kisah Para Rasul, pengutusan Barnabas dan Saulus secara langsung oleh Roh Kudus dinyatakan saat gereja sedang berdoa bersama-sama. Gereja yang mengadakan ibadah doa, tetapi tidak pernah mendoakan ladang misi, sedang tidak berada dalam kehendak Roh Kudus.

Keenam, doa bersama-sama adalah langkah pertama yang harus dikerjakan saat memulai sebuah pelayanan yang baru.

Saya mengingatkan apa yang mungkin banyak dilupakan oleh gereja. Kalau Anda membaca Kisah Para Rasul mulai ayat 7, Anda akan menemukan bagaimana gereja pertama kali muncul di Eropa, bagaimana Injil Tuhan Yesus pertama kali diberitakan di tanah Eropa. Rasul Paulus memulainya dengan berdoa di tempat doa di tepi sungai. Mulailah setiap pelayanan gereja Anda dengan doa bersama-sama.

CC BY-NC-SA 4.0 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

1 thought on “Warisan gereja mula-mula bagi gereja modern (bagian #3): “Doa Bersama-sama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.